Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Berita Lingkungan

Mimpi Maritim Andi Utta dan Ikramullah di Tengah Ancaman Degradasi Laut Bulukumba

Oleh Arman Jaya 07 Nov 2026 22:08 3 menit baca

Klikhijau.com - Di sepanjang pesisir Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, bentang laut yang menopang kehidupan ratusan keluarga nelayan tradisional kian berhadapan dengan tekanan nyata. Kerusakan habitat laut, penurunan produktivitas tangkapan, hingga ancaman alih fungsi wilayah perairan menjadi realitas harian yang harus dihadapi warga tapak. Laut Teluk Bone hingga Perairan Flores yang mengepung semenanjung ini tak lagi seramah dulu bagi para nelayan skala kecil.

Di tengah situasi ekologis yang kian mengkhawatirkan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bulukumba mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan inovasi ekonomi maritim. Saat berbicara di Institut Teknologi dan Bisnis Maritim (ITBM) Balik Diwa, Makassar, Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf menyoroti pentingnya pengelolaan potensi bahari melalui keterampilan dan wirausaha generasi muda.

Namun, di tingkat tapak, persoalan utama tidak hanya terletak pada pengolahan komoditas, melainkan pada jaminan perlindungan ruang hidup bahari dari kerusakan lingkungan yang kian meluas.

"Kekayaan maritim Bulukumba sangat besar, tetapi butuh SDM yang memiliki keterampilan agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal," ujar Andi Muchtar. Ia menambahkan bahwa transformasi ekonomi membutuhkan modal keterampilan praktis dan keberanian menciptakan peluang usaha baru di daerah origin penangkapan.

Terumbu Karang Terancam dan Ketahanan Nelayan Tapak

Pesisir Bulukumba merupakan bentang alam penting yang menampung keanekaragaman hayati laut tinggi, mulai dari tutupan terumbu karang (Scleractinia), padang lamun (Cymodoceaceae), hingga hutan mangrove (Rhizophora spp.) yang menjadi benteng alami dari abrasi serta tempat pemijahan berbagai spesies ikan komersial seperti ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) dan cakalang (Katsuwonus pelamis).

Sayangnya, degradasi kawasan pesisir akibat konversi lahan, praktek penangkapan tidak ramah lingkungan, serta dampak krisis iklim global menempatkan ekosistem ini dalam kondisi kritis. Luas tutupan mangrove dan kesehatan terumbu karang di beberapa titik kawasan pesisir terus menyusut, memicu penurunan drastis volume tangkapan nelayan tradisional yang menggantungkan hidup tanpa alat modern.

Menagih Komitmen Perlindungan di Luar Janji Akademis

Rektor ITBM Balik Diwa, Muh. Ikramullah Akmal, mencatat bahwa sebagian besar mahasiswa yang mengenyam pendidikan maritim di institusinya berasal dari wilayah Bulukumba, dengan dukungan akses Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Kolaborasi antara Pemkab Bulukumba dan lembaga akademis melalui penandatanganan kerja sama Tri Dharma Perguruan Tinggi diharapkan mampu menyentuh persoalan mendasar di lapangan.

Meski demikian, para pengamat dan pendamping hukum lingkungan menegaskan bahwa dorongan kewirausahaan maritim harus sejalan dengan komitmen perlindungan ekologi. Tanpa adanya pembatasan izin industri yang merusak, penegakan hukum terhadap kejahatan perairan, serta pengakuan terhadap wilayah tangkap nelayan tradisional, akademisi dan generasi muda hanya akan mewarisi laut yang telah rusak.

Tantangan nyata Bulukumba kini bertumpu pada keberanian kebijakan: apakah pembangunan maritim akan menempatkan kelestarian ekosistem pesisir dan keadilan bagi nelayan kecil sebagai panglima, atau sekadar memacu eksploitasi di tengah krisis ekologis yang terus mengintai di tapak.

Topik terkait
Laut Maritim Bulukumba Nelayan Pesisir Kampus