Mewaspadai Peralihan Rawa dari Penyerap Karbon ke Sumber Karbon

oleh -68 kali dilihat
Mengenal Hutan Rawa, Fungsi, Karateristik, dan Sebarannya di Indonesia
Mengenal Hutan Rawa, Fungsi, Karateristik, dan Sebarannya di Indonesia-foto/kipbrispdr.org

Klikhijau.com – Rawa adalah berbagai jenis tanah yang terbentuk secara alami, atau tanah permanen atau sementara yang terbentuk dari campuran air tawar dan air laut, termasuk wilayah laut dengan kedalaman air kurang dari 6 m pada saat surut, yaitu rawa-rawa dan zona intertidal. .

Pengertian lainnya, rawa adalah genangan air alami. Ia  terjadi secara terus menerus atau musiman akibat drainase yang buruk dan memiliki sifat fisik, kimia, dan biologi yang khusus.

Di Indonesia, rawa biasanya ditemukan di hutan. Secara umum, rawa terbagi dalam dua kategori besar; rawa air tawar yang dapat ditemukan di dalam hutan dan rawa air asin di sepanjang pantai.

Rawa yang memiliki kaya nutrisi adalah rumah harta karun ekologis bagi semua jenis makhluk untuk bertahan hidup.

KLIK INI:  Menghitung Potensi Nilai Ekonomi Karbon yang Bisa Diperoleh Indonesia

Rawa juga dikenal sebagai “pembersih alami” karena perannya dalam mencegah pencemaran atau pencemaran lingkungan alam.

Oleh karena itu, rawa memiliki nilai ekonomi, budaya, lingkungan,  yang tinggi, sehingga lingkungan rawa harus dilindungi.

Selama ini fungsi rawa adalah sebagai penyerap karbon. Sayangnya, ada fakta lain yang ditemukan  perihal rawa, yakni ada sebuah simulasi pemodelan memprediksi bahwa zona rawa pesisir. nantinya akan berubah dari penyerap karbon menjadi penghasil karbon saat iklim menghangat dan permukaan laut naik.

Studi baru itu diterbitkan di PLOS Climate, yang melukiskan masa depan yang suram untuk wilayah pesisir di Atlantik tengah.

Rawa akan berkembang menjadi hutan dataran rendah dan lahan basah air tawar, membunuh pepohonan, yang akan melepaskan karbon saat terurai.

Selama studi, Katie Warnell dari Duke University bekerja sama dengan tujuh lembaga sumber daya alam di sepanjang pantai. Dia mengatakan temuannya penting bagi manajemen.

KLIK INI:  Peduli Kebersihan, Bank NTT Sumbang Tempat Sampah di Labuan Bajo

“Penelitian ini dan percakapan kami dengan negara bagian menimbulkan banyak pertanyaan tentang opsi untuk mengelola lanskap pesisir mengingat perubahan ini dan menekankan pentingnya mengurangi gas rumah kaca dan kenaikan permukaan laut secara keseluruhan karena itulah pendorong utama semua ini,” katanya.

Bukan hanya masalah perubahan iklim

Warnell juga menunjukkan bahwa kehilangan rawa bukan hanya masalah perubahan iklim.

“Karbon adalah salah satu bagian dari gambaran. Ada banyak alasan lain untuk menjaga rawa-rawa tetap ada, termasuk perlindungan pantai dan habitat pembibitan untuk perikanan. Kita perlu mempertimbangkan semua faktor yang berbeda ini dalam membuat keputusan tentang pengelolaan habitat pesisir kita.”

KLIK INI:  Kicau Burung Dapat Mengurangi Kecemasan dan Paranoid

Berdasarkan model, kemungkinan hasil negatif. Dalam 16 dari 19 proses, model memperkirakan bahwa lahan rawa akan bertransisi dari penyerap karbon ke sumber karbon, melepaskan lebih banyak karbon ke atmosfer daripada yang dapat ditangkap oleh rawa-rawa.

Namun demikian, menurut  Warnell tidak semua harapan lantas hilang, “Mungkin ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melindungi area utama dari konversi. Di North Carolina, tanggul dan pompa telah digunakan untuk melindungi lahan pertanian dan kota dari kenaikan permukaan laut. Meskipun ini mahal, mereka mungkin sepadan di area tertentu,” ujarnya.

Pilihan lain adalah menebang pohon terlebih dahulu di daerah yang rentan sebelum mereka terbunuh oleh air asin. Namun, makalah tersebut menyebutkan solusi ini mungkin berisiko karena metodenya belum diuji dan karena dampak ekologis yang jelas.

Apa yang ditemukan studi tersebut, semoga tidak benar-benar terjadi.

KLIK INI:  KLHK Tegaskan Proyek Karbon Hutan Harus Sesuai Regulasi Negara

Sumber: Earth