Meresapi Lagu Berbau Alam dari Payung Teduh yang Meneduhkan

oleh -221 kali dilihat
Meresapi Lagu Berbau Alam dari Payung Teduh yang Meneduhkan
Meresapi Lagu Berbau Alam dari Payung Teduh yang Meneduhkan-foto/Ist

Klikhijau.com – Lagu-lagu Payung Teduh memiliki daya pikat tersendiri. Lirik-liriknya terdengar puitik dan lembut.

Sejak mengeluarkan lagu pertama mereka Angin Pujaan Hujan nama  Payung Teduh mulai dibincangkan.

Padahal band beranggotakan  Ivan Penwyn, Comi Aziz Kariko,  Alejandro Saksakame dan Marsya Ditia ini, merupakan band indie Indonesia. Band ini beraliran fusi antara folk, keroncong, dan jazz.

Khusus Marsya, ia merupakan personil baru (2018-sekarang) menggantikan Mohammad Istiqamah Djamad (Is) yang merupakan vocalis utama dan pertama band tersebut.

KLIK INI:  Memahami Pengertian Efek Rumah Kaca, Penyebab dan Dampaknya

Is  memutuskan keluar dari Payung Teduh pada tahun 2017 karena merasa  tidak lagi sejalan dengan band yang didirikannya itu.

Band ini  lahir pada akhir 2007 lalu. Sejak mulai berkiprah di belantikan musik tanah air. Payung Teduh telah melahirkan banyak lagu. Di antara lagu-lagunya itu, ada beberapa yang berbau alam, di antaranya:

 

Diantara Pepohonan

 

Di antara pohon yang berjejal
Kutemukan dirimu terpaku
Melihat dedaunan yang jatuh ke tanah
Bersimpuh menyembah semesta
Terbungkus dalam kerinduan yang fana

Mungkinkah seperti
Apa yang biasa kutemukan
Di penggalan kisah mimpiku

Berdua berbincang bercerita
Tentang langit biru
Tentang rasa rindu
Tentang senja dan hujan yang ku simpan
Dan kukirimkan kepadamu
Berharap kau berada di situ uh

KLIK INI:  Trashed dan 4 Film Lainnya akan Ubah Sikap Cuek pada Lingkungan Jadi Cinta

Cerita Tentang Gunung dan Laut

 

Ta-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Ta-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Ta-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Ta-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Ta-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Ta-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Ta-ra-ra-ru-ru-ru-rua

Aku pernah berjalan di atas bukit
Tak ada air
Tak ada rumput
Tanah terlalu kering untuk ditapaki
Panas selalu menghantam kaki dan kepalaku

Aku pernah berjalan di atas laut
Tak ada tanah
Tak ada batu
Air selalu merayu
Menggodaku masuk ke dalam pelukannya

Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua

Aku tak pernah melihat gunung menangis
Biarpun matahari membakar tubuhnya
Aku tak pernah melihat laut tertawa
Biarpun kesejukan bersama tariannya
Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

Tak perlu tertawa atau menangis
Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa

U-u-u-u-u-u
U-u-u-u-u
A-a-a-a-a-a
A-a-a-a-a
A-a-a-a-a
U-u
U-u-u-u-u-u-u
U-u-u-u-u

Pada gunung dan laut
Karena gunung dan laut
Tak punya rasa (Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua)

Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua (Oh)
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua
Pa-ra-ra-ru-ru-ru-rua

KLIK INI:  Greta Thunberg Menolak Penghargaan Lingkungan

Makin Lelah

 

Kupandangi langit
Awan merah kelabu
Matahari sudah
Lelah berjalan

Perjalanan ku belum berakhir
Garis hidup masih tegang
Mataku sudah selesai menatap
Kaki ini segan melangkah
Kaki ini segan melangkah

Langit menggelap
Padang rumput semakin samar
Bayangan pohon memudar
Aku masih harus berjalan

Makin jauh
Makin lelah
Makin jauh
Makin lelah

Perjalanan ku belum berakhir
Garis hidup masih tegang
Mataku sudah selesai menatap
Kaki ini segan melangkah
Kaki ini segan melangkah

Langit menggelap
Padang rumput semakin samar
Bayangan pohon memudar
Aku masih harus berjalan

Makin jauh
Makin lelah
Makin jauh
Makin lelah

Makin jauh
Makin lelah
Makin jauh
Makin lelah

Itulah lagu payung teduh berbau alam yang layak didengarkan…selama mendengarkan, sahabat hijau!

KLIK INI:  Bob Dylan, Nobel Sastra, dan Aroma Alam dalam Lagunya