Menyelam ke Kolam Sapardi Djoko Damono
Klikhijau.com – Para pencinta lingkungan, tentu tidak akan asing dengan nama Sapardi Djoko Damono atau yang sering disingkat SDD. Kenapa? Karena hampir setiap tulisannya, baik puisi maupun prosa yang...
Klikhijau.com – Para pencinta lingkungan, tentu tidak akan asing dengan nama Sapardi Djoko Damono atau yang sering disingkat SDD. Kenapa? Karena hampir setiap tulisannya, baik puisi maupun prosa yang ditulisnya selalu mencerminkan kesetiaan pada citraan alam yang kuat.
Selama kurang lebih 40 tahun menulis puisi, kesetiaan Sapardi menggunakan benda-benda alam sebagai alat pengucapan sajak-sajaknya tidak pernah hilang.
Dalam rentang itu, kita akan selalu bertemu dengan diksi kabut, bunga, embun, matahari, bulan , bintang, langit, rumput, pohon, ilalang, awan, ranting, sungai, laut, hujan, dan diksi alam lainnya.
Begitupun dengan bukunya yang bertajuk Kolam yang diterbitkan Gramedia pada tahun 2017. Namun, sebelum diterbitkan oleh Gramedia, buku ini telah terbit pertama kali pada tahun 2009.
[irp]
Membaca puisi-puisi yang terangkum dalam Kolam, pembacanya memang terasa masuk ke dalam teduh yang sejuk, sekaligus indah dan menawan.
Selain diksi alam yang digunakan dalam karya-karyanya, Sapardi juga sangat dikenal dengan kesederhanaannya, ia tidak perlu mengulik kerumitan estetika demi menghasilkan puisi yang indah. Sajak-sajak dalam buku Kolam ini, misalnya. Dengan sederhana mampu menghadirkan keteduhan bagi pembaca.
Dari misalnya, cerita tentang sebuah kolam dan ikan-ikan yang berterima kasih di dalamnya, atau dari sebatang pohon belimbing yang tumbuh di pekarangan, atau dari burung-burung yang tidak pernah meninggalkan jejak di langit, atau personifikasi dari sebentuk kabut yang merayapi bukit.
[irp]