Meniran, Tumbuhan Liar Sang Pemelihara Imun Tubuh yang Layak Dimengerti
Klikhijau.com – Meniran, nama ini tidak familiar bagi banyak orang bahkan mungkin dianggap tidaklah terlalu penting untuk dikenal. Tetapi, hampir semua orang pasti pernah menjumpainya terutama sehabis...
Klikhijau.com – Meniran, nama ini tidak familiar bagi banyak orang bahkan mungkin dianggap tidaklah terlalu penting untuk dikenal. Tetapi, hampir semua orang pasti pernah menjumpainya terutama sehabis musim hujan.
Pada saat hendak bersih-bersih halaman rumah, tumbuhan ini seringkali ada di sana. Ia terpaksa dicabuti karena dianggap sebagai rumput liar atau gulma. Yah, ia tumbuh liar di tempat berbatu dan lembap, seperti di tepi sungai, pantai, semak, atau lahan bekas sawah. Juga di tanah telantar di antara rerumputan, tidak hanya di desa tapi juga di kota.
Meniran merupakan tumbuhan liar yang mudah dikenali karena daunnya yang mirip pohon asam. Berbuah kecil bundar berjejer rapi di sepanjang tangkai bawah daunnya yang mungil. Meniran itu apa? Bermanfaat untuk apa? Dua pertanyaan ini seringkali muncul dan itulah awal mula kita ingin berkenalan dengannya.
Faktanya, Meniran memang bukan sekadar rerumput liar biasa. Tumbuhan ini adalah berkah dari langit yang diturunkan Tuhan untuk berjuta kebaikan. Pada perawakannya yang sederhana itu, ia menyimpan rahasia yakni memiliki manfaat luar biasa pada kesehatan. Jadi jangan keburu dicabut dulu bila menjumpainya di antara rerumputan liar lainnya.
[irp]
Meniran di halaman rumah saya-Foto/Ist[/caption]
Di Indonesia, juga dikenal dengan banyak istilah lokal semisal meniran ijo, meniran merah, memeniran di Jawa. Sedangkan suku Dayak dan Banjar menyebutnya ambin buah. Di Maluku dinamai belalang babiji dan banyak lagi. Bahkan, ada banyak daerah yang tak memberinya nama apa pun, sebab lebih dikenal sebagai rerumputan biasa.
Dikutip dari usu.ac.id, Phyllanthus urinaria telah lama digunakan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, secara tunggal atau diramu bersama tumbuhan obat lain secara turun-temurun digunakan untuk mengobati beragam penyakit, seperti diare, malaria, sariawan, batu ginjal, sakit kuning, ayan, sakit gigi, gonorhoe, dan antiradang (Kardinan dan Kusuma, 2004).
[irp]
Di Thailand juga digunakan sebagai herbal untuk mengobati demam dan peluruh air seni. Sedangkan, di Peru, rerumputan ini dicampur dengan perasan air jeruk nipis, diminum sebagai tonikum untuk penderita diabetes mellitus dan penderita hepatitis. Di Suriname, dimanfaatkan untuk menangkal kolik, gangguan ginjal, dan berbagai penyakti lever akut atau kronis.