Mengenal Merbau, Kayu Khas Indonesia Berkelas Dunia yang Terancam Punah

Klikhijau.com – Merbau (Intsia bijuga) merupakan satu jenis kayu dari famili Caesalpiniaceae, subfamili Caesalpinoidae. Dalam dunia perdagangan, kayu ini juga dikenal dengan nama kwila dan ironwood (k...

Mengenal Merbau, Kayu Khas Indonesia Berkelas Dunia yang Terancam Punah
Bacakan Artikel

Tokede dkk (2016), mengemukakan bahwa pada umumnya, Intsia bijuga tumbuh di habitat berpasir dan berbatu, utamanya di tanah-tanah endapan  di hutan dataran rendah. Pohon ini juga dapat tumbuh pada tanah-tanah lembab yang tergenang air dan dapat tumbuh pada tanah-tanah kering, tanah berpasir, tanah berbatu, baik pada kondisi tanah datar maupun miring.

Di Papua, Intsia bijuga dapat tumbuh secara alami dan bercampur dengan jenis pohon lain di hutan tropika basah. Di tanah Papua, Merbau tersebar di daerah meliputi:  Daerah Kepala Burung  yakni Monokwari (Sidei, Oransbari, Wandoswaar, Prafi, Bintuni, Bobo, Wariki dan Boutiga) dan Sorong.

Pantai utara Papua, Intsia bijuga dapat dijumpai di Kabupaten Jayapura, Biak, Serui dan Fakfak. Sedangkan di Maluku, penyebaran Merbau meliputi Pulau Helmahera, Bacan, Obi dan Pulau Seram.

Potensi dan manfaat Merbau

Sejauh ini keberadaan Intsia bijuga di Papua mengalami penurunan akibat eksploitasi yang berlebihan.

Padahal, kayu Merbau dikenal sebagai kayu paling top dengan kualitas terbaik di Asia Tenggara. Kayu ini banyak dimanfaatkan untuk pembangunan rumah, kapal, perabot rumah, jembatan, pintu, kusen dan lainnya.

[caption id="attachment_19469" align="alignnone" width="602"]kayu merbau Kayu Merbau yang berkualitas top - Foto/Dekorumah[/caption]

Secara tradisional jenis kayu ini juga digunakan oleh masyarakat lokal untuk ukiran, perahu dan bahan bangunan rumah tradisional. Hal itu karena Merbau tergolong kayu keras yang memiliki daya tahan cukup baik dan tahan di berbagai kondisi cuaca.

Kayu ini juga dikenal punya keunggulan khusus yakni anti rayap dan anti jamur sehingga tingkat kerusakannya saat digunakan sangat kecil.

Sayangnya, produksi kayu Merbau hanya bisa diperoleh dari tegakan alam. Bila eksploitasi terus berlangsung tentu akan mengancam keragaman genetik Intsia bijuga.

Tree Conservation Information Service (2000) mengemukakan bahwa the United Nations Environment Programme-World Conservation Monitoring Centre (UNEP-WCMC) menunjukkan bahwa pohon ini sudah termasuk kategori rawan (VU A1cd). Bahkan, ada keinginan sejumlah pihak memasukkannya dalam APENDIKS III CITES (Tokede dkk.,2006).

Ini menunjukkan betapa keberadaan Intsia bijuga semakin mencemaskan. Sejumlah peneliti menyarankan perlunya mengantisipasi masalah kelangkaannya dengan mengusulkan pembangunan hutan tanaman Merbau. Ini penting sebagai antisipasi ketergantungan terhadap potensi alam dan penyelamatan terhadap sumberdaya genetik yang tersisa.

Sejumlah peneliti pun merekomendasikan perlunya suatu konservasi sumberdaya genetik untuk menyelamatkan materi yang masih tersisa di alam.

Referensi:

*Mahfudz, S. Pudjiono, T.P. Yodohartono dan B. A. Suripaty.2006. Merbau dan Upaya Konservasinya. Puslitbang Hutan Tanaman, Badan Litbang Kehutanan. Bogor.

*Chapter tulisan Jafred E. Halawane berjudul “Status Domestikasi Merbau (Intsia bijuga O.Ktze) di Indonesia dalam buku “Prospek Pengembangan Hutan Tanaman Rakyat, Konservasi dan Rehabilitasi Hutan. Balai Penelitian Kehutanan Manado. 2012.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2