Mengenal Merbau, Kayu Khas Indonesia Berkelas Dunia yang Terancam Punah
Klikhijau.com – Merbau (Intsia bijuga) merupakan satu jenis kayu dari famili Caesalpiniaceae, subfamili Caesalpinoidae. Dalam dunia perdagangan, kayu ini juga dikenal dengan nama kwila dan ironwood (k...
Klikhijau.com – Merbau (Intsia bijuga) merupakan satu jenis kayu dari famili Caesalpiniaceae, subfamili Caesalpinoidae. Dalam dunia perdagangan, kayu ini juga dikenal dengan nama kwila dan ironwood (kayu besih).
Di sejumlah negara, kayu ini juga dikenal dengan ragam nama, di Semenanjung Malaysia dinamai Ipil, di Italia disebut Inzia, Cohu, faux teck (Prancis), ironwood, borneoteak (Inggris), Cohu (Selandia Baru, kubok, kubuk (Kepulauan marshall), ifit, ifet, ipil (Kepulauan Mariana dan di Indonesia lebih akrab dengan sebutan kayu besi atau merbau.
Menariknya, ada pula nama-nama lokal kayu Merbau yang familiar di Indonesia antara lain: bat (Komtoek-Jayapura), rang/tangbie (Skou-Jayapura), paseh (Asmat-Papua), Kaboei (Numfor – Biak), osa (Waropen-Serui), barbie babilli (Sentani-Jayapura) dan pakven (Njou-Jayapura). (Tokede dkk., 2006).
Intsia bijuga termasuk kayu kelas top dunia bahkan disinyalir merupakan kayu terbaik di Asia Tenggara.
[irp]
Kayu Merbau yang berkualitas top - Foto/Dekorumah[/caption]
Secara tradisional jenis kayu ini juga digunakan oleh masyarakat lokal untuk ukiran, perahu dan bahan bangunan rumah tradisional. Hal itu karena Merbau tergolong kayu keras yang memiliki daya tahan cukup baik dan tahan di berbagai kondisi cuaca.
Kayu ini juga dikenal punya keunggulan khusus yakni anti rayap dan anti jamur sehingga tingkat kerusakannya saat digunakan sangat kecil.
Sayangnya, produksi kayu Merbau hanya bisa diperoleh dari tegakan alam. Bila eksploitasi terus berlangsung tentu akan mengancam keragaman genetik Intsia bijuga.
Tree Conservation Information Service (2000) mengemukakan bahwa the United Nations Environment Programme-World Conservation Monitoring Centre (UNEP-WCMC) menunjukkan bahwa pohon ini sudah termasuk kategori rawan (VU A1cd). Bahkan, ada keinginan sejumlah pihak memasukkannya dalam APENDIKS III CITES (Tokede dkk.,2006).
Ini menunjukkan betapa keberadaan Intsia bijuga semakin mencemaskan. Sejumlah peneliti menyarankan perlunya mengantisipasi masalah kelangkaannya dengan mengusulkan pembangunan hutan tanaman Merbau. Ini penting sebagai antisipasi ketergantungan terhadap potensi alam dan penyelamatan terhadap sumberdaya genetik yang tersisa.
Sejumlah peneliti pun merekomendasikan perlunya suatu konservasi sumberdaya genetik untuk menyelamatkan materi yang masih tersisa di alam.
Referensi:
*Mahfudz, S. Pudjiono, T.P. Yodohartono dan B. A. Suripaty.2006. Merbau dan Upaya Konservasinya. Puslitbang Hutan Tanaman, Badan Litbang Kehutanan. Bogor.
*Chapter tulisan Jafred E. Halawane berjudul “Status Domestikasi Merbau (Intsia bijuga O.Ktze) di Indonesia dalam buku “Prospek Pengembangan Hutan Tanaman Rakyat, Konservasi dan Rehabilitasi Hutan. Balai Penelitian Kehutanan Manado. 2012.
[irp]