- Kembang Hujan - 12/01/2026
- Sebelum Polusi Tiba - 04/01/2026
- Perihal Pohon Durian di Belakang Rumah dan Anggrek Macang yang Menghuninya - 25/12/2025
Klikhijau.com – Karhutla Indonesia hampir setiap tahun terjadi. Karhutla atau Kebakaran Hutan dan Lahan adalah ancaman serius di musim kemarau.
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya karhutla Indonesia. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya bisa menghentikan karhutla.
Meski begitu, Indonesia tak patah asa, tetap saja mencari formula agar karhutla bisa dicegah sedini mungkin untuk menyelamatkan hutan dan lahan dari amukan api.
Terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berupaya meningkatkan Fire Danger Rating System (FDRS) atau sistem kebakaran hutan dalam hal resolusi data input dengan mengkombinasikan data pengamatan stasiun-stasiun BMKG dengan data penginderaan jauh.
Sistem FDRS ini diberi nama Spartan atau Sistem Peringatan Kebakaran Hutan. Resolusi yang digunakan dalam sistem ini lebih tinggi dibandingkan dengan resolusi sebelumnya untuk mengatasi karhutla di Indonesia.
Resolusi yang lebih tinggi tersebut, yakni spasialnya, dari 27 kilometer menjadi 10 kilometer untuk inputnya.
“Secara spasial petanya juga lebih rapat, tersedia data dan informasi untuk setiap provinsi,” jelas Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra.
Tidak hanya itu, data observasi yang lebih rapat ini berdasarkan stasiusn pengamatan BMKG yang dikombinasikan dengan data remote sensing (satelit )
Agie juga mengungkapkan bahwa BMKG dalam kapasitas tugasnya mendukung pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan kebakaran dan lahan.
“BMKG memberikan informasi berupa peta sebaran dan trayektori asap kebakaran hutan, informasi titik api (geohotspot), informasi hari tanpa hujan, informasi potensi pertumbuhan awan hujan, dan informasi sistem peringatan kebakaran hutan,” ungkapnya belum lama ini.
Sistem FDRS ini sesungguhnya didasarkan pada sistem Fire Weather Index (FWI) dari Kanada. Namun, dalam penggunaan di Indonesia telah dilakukan kalibrasi indeks menggunakan catatan historis kondisi kebakaran hutan di Indonesia.
FDRS ini menurut Agie terdiri dari enam indeks kerentanan yang terdiri dari tiga indeks kekeringan lapisan tanah, dan tiga indeks perilaku api (fire behaviour).
“Masing-masing indeks memiliki kontribusi dalam menggambarkan tiap aspek penting dalam peningkatan potensi terjadinya kebakaran hutan,” ujarnya.
Tiga indeks FDRS
Labih lanjut, Agie menjelaskan ketiga indeks kekeringan lapisan tanah dalam sistem FWI yang dimaksud, yakni:
-
Indeks FFMC
FFMC atau fine fuel moisture code akan menggambarkan tingkat kekeringan dan kemudahan terbakar dedaunan kering dan alang-alang yang biasanya menutupi lantai hutan.
-
Indeks DMC
Duff moisture code adalah kepanjangan dari DMC. DMC ini menggambarkan tingkat kekeringan dan kemudahan lapisan tanah organik atau gambut pada kedalaman lima hingga 10 sentimeter serta bahan-bahan kayu ringan, misalnya ranting-ranting kecil.
-
Indeks DC
DC merupakan singkatan dari dought code yang menggambarkan tingkat kekeringan lapisan tanah organik padat atau gambut yang biasannya berada pada kedalaman kurang dari 10 sentimeter dan bahan-bahan kayu berat seperti gelondongan kayu di permukaan tanah.
Selain tiga indeks tersebut, Agie juga menyebut 3 indeks perilaku api dalam Spartan, yaitu Build Up Index (BUI), Initial Spread Index (ISI) dan Fire Weather Index (FWI):
-
Indeks BUI
BUI atau build up index ini menggambarkan potensi jumlah bahan organik mudah terbakar akibat kekeringan.
-
Indeks ISI
Initial spread index (ISI) inilah yang menunjukkan potensi kecepatan penyebaran api jika terjadi kebakaran hutan.
“ISI meunjukkan potensi kecepatan penyebaran api jika terjadi kebakaran hutan,” jelasnya.
-
Indeks FWI
Fire weather index atau FWI ini akan menggambarkan potensi intensitas api jika terjadi kebakaran hutan.
Nah, untuk memperoleh informasi soal Spartan, masyarakat bisa mengakses laman di laman www. bmkg.go.id/cuaca/kebakaran-hutan.bmkg.








