Medsos Berpeluang Besar Lahirkan Gejala Depresi, Khususnya Bagi Anak Muda
Klikhijau.com - Jika kesetian adalah selalu bersama. Semisal sepasang kekasih dianggap setia jika selalu bersama, Maka sekarang ini ada hal yang lebih setia dari kekasih. Namun, kesetiannya bisa lahir...
Klikhijau.com - Jika kesetian adalah selalu bersama. Semisal sepasang kekasih dianggap setia jika selalu bersama, Maka sekarang ini ada hal yang lebih setia dari kekasih. Namun, kesetiannya bisa lahirkan depresi.
Ia adalah handphone dikenal juga dengan nama gedget. Sebuah benda yang bisa digenggam. Bisa dibawa ke mana pu, bahkan ke dalam kamar mandi. Di dalamnya ada banyak pilihan yang membuat kita kerap menatapinya--sering dari menatap mata kekasih.
Karena kesetiannya itu pula. Gedget berpotensi melahirkan penyakit depresi. Apalagi di dalamnya ada berbagai macam fitur mulai dari game hingga media sosial (medsos).
Letak permasalahannya menurut cnnindonesia.com, Minggu, 07 Juli 2019 lalu pukul 15:21 WIB lalu adalah penggunaan media sosial setiap harinya berhubungan erat dengan gejala depresi.
Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan hal itu, terutama pada kaum muda. Penelitian itu menunjukkan menghabiskan waktu dengan melihat media sosial dan menonton televisi berpotensi meningkatkan gejala depresi.
[irp posts="2832" name="Benarkah Instagram Media Paling Buruk Bagi Kesehatan Mental, Bagaimana Mengatasinya?"]
"Sepengetahuan kami, penelitian ini adalah yang pertama menyajikan analisis perkembangan variasi dalam depresi dan berbagai jenis waktu layar," kata peneliti seperti diambil dari CNN
Penelitian itu menemukan setiap tambahan jam yang dihabiskan kaum muda di media sosial atau menonton televisi. Nah, tingkat keparahan gejala depresi ikut mengalami peningkatan dengan melakukan hal itu.
Sederhananya adalah semakin lama menggunakan media sosial, maka kemungkinan akan semakin parah pula gejala depresi yang dialami seseorang.
Studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA Pediatrics ini. Para penelitian ini melibatkan 3.826 siswa di Kanada dari 2012 hingga 2018.