Margaretha Mala, Pelestari Tenun dengan Pewarna Alami Warisan Suku Dayak Iban

oleh -220 kali dilihat
Margaretha Mala, Pelestari Tenun dengan Pewarna Alami Warisan Suku Dayak Iban
Margaretha Mala - Foto/Ist

Klikhijau.com – Margaretha Mala, perempuan asal Desa Menua Sadap, Kapuas Hulu Kalimantan Barat yang mendapat penghargaan Kehati AWARD 2020, kategori Tunas Kehati.

Kategori Tunas Kehati adalah satu penghargaan yang diberikan Yayasan Kehati pada perorangan atau kelompok remaja nusantara  atau mahasiswa agar menjadi tunas harapan berikutnya dalam menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia di masa yang akan datang.

Penghargaan diberikan pada tanggal 27 November 2020, setelah melalui seleksi ketat dan cukup panjang.

Margaretha tidak hanya bergerak merawat tradisi tenun warisan leluhur suku Dayak Iban, ia juga menjaga kearifan lingkungan dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai pewarna alami tenun.

Margaretha Mala (Mala) adalah sosok yang dekat dan membumi dengan tumbuhan – tumbuhan di daerahnya.

KLIK INI:  Kehati AWARD 2020 Diberikan pada 6 Pejuang Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Kecintaannya terhadap tenun sangatlah besar hingga Ia berhasil mencurahkan inovasinya melalui kegiatan yang Ia bangun, yakni Dara Labu Anya Ngemata Ka Pengawa Ari Aki-Inek Kitai Bansa Iban Ngan Ngenanka Menua.

Kegiatan ini merupakan hal yang sangat unik, karena selain menitikberatkan pada pada aspek “tradisi”, kegiatan ini juga tetap berfokus pada kegunaan, sehingga sangat menarik.

Melalui kegiatan ini pula, Ia mampu mencapai berbagai ranah, seperti aspek masyarakat adat dan pemberdayaan ekonomi perempuan.

Kegiatan yang didirikan oleh Mala berlokasi di kebun etnobotani berada di Dusun Sadap, Desa Menua Sadap (Desa penyangga Taman Nasional Betung Kerihun (TNBT) dengan luas 3 hektar.

KLIK INI:  Du’Anyam, Wirausaha Sosial yang Berdayakan Perempuan NTT Lewat Anyaman

Terdapat kurang lebih 160 individu tanaman yang tumbuh di kebun tersebut, salah satu jenis tanamannya adalah pewarna alami, seperti engkerebai, leban, durian, bungkang/daun salam, kabu – kabu / randu, ulin, rambutan, dan pepaya.

Dan lokasi lain yaitu demplot tanaman pewarna yang berada di Dusun Sadap Desa Menua Sadap dengan luas sekitar 1 hektar. Demplot ini merupakan kerjasama antara masyarakat dengan FORCLIME.

Jenis tanaman yang dibudidayakan adalah rengat padi dan rengat akar. Kegiatan pemanfaatan dan budidaya secara intensif ini mulai dilakukan sejak tahun 2018 dan untuk budidaya demplot tanaman pewarna di Dusun Sadap mulai dilakukan pada tahun 2018. Pemanfaatan tanaman pewarna tersebut dilakukan secara lestari hingga tahun ini (bulan Januari 2020).

Kreativitasnya dalam membimbing ibu-ibu kelompok datangnya secara tidak sengaja yakni dari datangnya tamu (ibu-ibu) ke rumahnya dan melihat Mala sedang menenun dan melihat pemandangan peralatan dan produk tenun hasil sendiri yang tersaji dalam galeri di rumahnya.

KLIK INI:  Kiprah Iwan Dento, Mengawal Karts Rammang-rammang Maros
Menginspirasi generasi muda

Mereka pun tertarik dan meminta Mala untuk mengajarkan mereka mengenai dunia tenun. Akhirnya, Mala termotivasi untuk melakukan kegiatan bimbingan menenun kepada ibu-ibu tersebut dan membentuk kelompok namanya kelompok endo segadok dengan jumlah anggota sebanyak 28 orang yang semuanya kaum ibu-ibu penduduk rumah betang Iban dusun Sadap.

“Nenun” merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh kaum perempuan untuk mendapatkan kain yang memiliki makna dan kegunaan tertentu. Salah satu “nenun” yang masih dilestarikan hingga sekarang terdapat pada masyarakat suku Dayak Iban di Desa Menua Sadap Kecamatan Embaloh Hulu Kabupaten Kapuas Hulu.

Pewarna alam yang mereka gunakan berasal dari tumbuh – tumbuhan yang tumbuh disekitar rumah betang mereka. Namun, perlu upaya konservasi agar tumbuhan tersebut dapat lestari dan terus – menerus dapat digunakan. Budidaya demplot tanaman pewarna di Dusun Sadap dilakukan pada tahun 2018.

“Kemenangan ini sebagai pemantik semangat bagi saya untuk terus melakukan upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Saya berharap semoga tradisi menenun dengan pewarna alam ini dapat diteruskan dan digemari oleh generasi muda,” tutur Margaretha Mala.

Mala berkomitmen akan mengajak dan mengajarkan warisan leluhur Dayak Iban berupa Nenun ini kepada generasi muda dan akan terus melakukan penanaman tanaman pewarna alami agar tetap lestari dan bumi menjadi asri.

Panjang umur perjuangan!

KLIK INI:  Puteri Indonesia Lingkungan 2019: Generasi Hijau Sebagai Tumpuan Penyelamat Bumi