Mantap, 2 Siswa Ini Ubah Energi Panas Knalpot dan Matahari Jadi Listrik

Klikhijau.com – Suara kendaraan bermotor yang keluar dari knalpot dari jalan tembus ke kamar. Suara seperti itu menjadi sesuatu yang lumrah beberapa tahun terakhir di kampung saya. Jika dulu, pada...

Mantap, 2 Siswa Ini Ubah Energi Panas Knalpot dan Matahari Jadi Listrik
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

AUTICS memiliki cara kerja yakni energi buang kendaraan bermotor diubah menjadi energi listrik dengan menggunakan termoelektrik yang lebih pucat, sedangkan panel surya mengubah energi matahari menjadi energi listrik.

Ramah lingkungan

Jasmine mengungkapkan, dengan dua alternatif sumber tersebut, AUTICS sebagai pengisi daya ponsel dapat dioperasikan secara maksimal, efisien, dan ramah lingkungan.

Inovasi yang dilakukan kedua siswa itu, diakui Adlina bahwa listrik yang dihasilkan disesuaikan dengan kebutuhan ponsel, sehingga alat ini aman digunakan.

“Perangkat ini juga dilengkapi dengan teknologi auto cut-off untuk memutus energi jika energi listrik yang dihasilkan melebihi daya dukung AUTICS,” terang Adlina.

Guna mengembangkan idenya, kedua inventor ini mendapatkan bimbingan dari   LIPI. LIPI sendiri berharap AUTICS dapat dipasang sebagai mobile charger bagi para pengendara sepeda motor, khususnya pengemudi ojek online yang membutuhkan telepon selulernya selama bekerja seharian.

Apa yang dilakukan oleh Jasmine dan Adlina merupakan sumbangsi yang cukup besar bagi lingkungan dan kesehatan. Apalagi hasil inovasinya mempunyai keunggulan sebagai inovasi yang ramah lingkungan.

Alat ciptaan keduanya  ini berpotensial menghasilkan listrik dengan memanfaatkan limbah panas sepeda motor yang ramah lingkungan dan teknologi bersih.

Tidak hanya itu,  market demand dan dapat memberikan kontribusi sosial untuk pengemudi online Indonesia dan para pengendra motor pada umumnya.

Menerka menciptakan alat tersebut tidak serta merta alias tdak instan. Setidaknya membutuh waktu selama   empat bulan dalam proses pembuatannya.

Hal itu disebabkan karena keduanya harus berhati-hati dalam menentukan material yang akan digunakan.

“Kami mendapati tantangan saat getting the ideas dan looking for the right materials,” jelas Jasmine.

Setelah berhasil menciptakan alat tersebut,  keduanya mulai bermimpi untuk mengembangkan dan  mematenkannya, membuat smaller prototype, dan membuat business plan untuk dapat diproduksi massal sehingga dapat dimanfaatkan bagi manusia dan lingkungan.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2