Lebih Dekat dengan Kacang Arab, Pangan Masa Depan dan Berkelanjutan

oleh -151 kali dilihat
Kacang arab-foto/Alodokter

Klikhijau.com – Kacang arab atau Cicer arietinum merupakan tanaman yang kaya protein. Tanaman ini adalah satu dari tanaman budidaya yang paling kuno. Ia termasuk suku Fabaceae, suku penghasil polong berukuran kecil. Warnanya kekuningan.

Ada dua jenis kacang arab, yakni Desi. Desi dari bahasa Hindi yang memiliki arti negara atau lokal. Ukuran kacang arab ini lebih kecil, lebih gelap, dan memiliki kulit yang kasar, umumnya dibudidayakan di anak benua India, Meksiko, Ethiopia, dan Iran.

Jenis kedua adalah Kabuli, ukurannya lebih terang, lebih besar, dan kulit lebih halus; sekain ditanam di Eropa Selatan, Afghanistan, Afrika Utara,  dan Chili, jenis ini juga diperkenalkan di anak benua India pada abad ke-18.

Menurut tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Wolfram Weckwerth dari Universitas Wina yang telah melakukan studi untuk menyelidiki variasi alami berbagai genotipe kacang arab dan ketahanannya terhadap stres kekeringan.

KLIK INI:  Malnutrisi, Krisis Kesehatan Anak Terburuk di Dunia

Dilansir dari Newswise, para ilmuwan mampu menunjukkan bahwa kacang arab adalah tanaman polong-polongan yang tahan kekeringan dengan kandungan protein tinggi yang dapat melengkapi sistem budidaya biji-bijian bahkan di daerah perkotaan. Studi tersebut baru-baru ini dipublikasikan dalam majalah spesialis The Plant Biotechnology.

Periode stres kekeringan yang panjang juga telah menjadi kenyataan di Eropa Tengah akibat perubahan iklim, ancaman besar bagi produktivitas tanaman, panen, dan dengan demikian ketahanan pangan.

Pada saat yang sama, terjadi penurunan dalam penggunaan keragaman genetik tanaman, dan sistem pangan global menjadi semakin seragam. Meskipun ada sekitar 7.000 tanaman pangan yang dapat dimakan, dua pertiga dari produksi pangan global hanya didasarkan pada sembilan spesies tanaman pangan.

“Basis genetik yang sempit ini dapat memiliki beberapa konsekuensi negatif, seperti peningkatan kerentanan tanaman terhadap penyakit dan hama, berkurangnya ketahanan terhadap faktor-faktor seperti kekeringan dan perubahan iklim, dan peningkatan kerapuhan ekonomi,” jelas ahli biologi molekuler Wolfram Weckwerth dari Universitas Wina.

KLIK INI:  Tentang Climate Quitting, Fenomena Resign Demi Lingkungan

Ia juga mengungkapkan bahwa menjaga keragaman tanaman dan genetik yang memadai sangat penting bagi pertanian, yang harus beradaptasi dengan kondisi yang berubah di masa depan. Dengan studi baru kami, kami telah mengambil langkah penting ke arah ini dan memandang buncis sebagai makanan penting masa depan.

Saat ini bukan pilihan utama

Kacang arab saat ini bukan salah satu tanaman yang disebutkan di atas yang saat ini menjadi sumber utama makanan dunia. Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Wolfram Weckwerth kini telah meneliti variasi alami berbagai genotipe kacang arab dan ketahanannya terhadap stres kekeringan dan memperoleh hasil yang menjanjikan.

KLIK INI:  Sorgum, Bahan Pangan Alternatif Masa Depan

Tim tersebut berhasil menanam banyak varietas kacang arab yang berbeda di bawah tekanan kekeringan dalam sebuah percobaan lapangan di wilayah kota Wina, yang menunjukkan bahwa kacang arab merupakan tanaman legum alternatif yang hebat dengan kandungan protein tinggi yang dapat melengkapi sistem pertanian biji-bijian di daerah perkotaan.

“Berbagai varietas dan jenis liar menunjukkan mekanisme yang sangat berbeda untuk mengatasi stres kekeringan yang terus-menerus. Variabilitas genetik alami ini sangat penting untuk menahan perubahan iklim dan memastikan kelangsungan hidup tanaman,” kata Weckwerth.

“Dalam penelitian kami, kami menggunakan indeks kerentanan stres (SSI) untuk menilai dampak stres kekeringan terhadap hasil panen. Hal ini memungkinkan kami mengidentifikasi genotipe yang berkinerja terbaik dan terburuk dalam kondisi stres. Temuan kami sangat penting untuk pemilihan genotipe untuk pemuliaan kacang arab yang tahan kekeringan,” jelas Palak Chaturvedi dari Universitas Wina, penulis utama penelitian tersebut.

KLIK INI:  Melacak Kendaraan yang “Tak Berdosa” sebagai Penyebab Polusi Udara
Kandungan kacang arab

Tim tersebut menggunakan kecerdasan buatan, statistik multivariat, dan pemodelan untuk mengidentifikasi penanda dan mekanisme untuk ketahanan yang lebih baik terhadap stres kekeringan.

“Dengan kandungan proteinnya yang tinggi dan ketahanannya terhadap kekeringan, kacang-kacangan seperti buncis merupakan makanan masa depan. Keuntungan lainnya adalah bahwa proporsi kacang-kacangan yang lebih tinggi dalam sistem pertanian suatu negara meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen secara keseluruhan – hal ini juga membuat pertanian lebih berkelanjutan,” simpul Weckwerth.

KLIK INI:  Hati-Hati, Konsumsi Protein Berlebih Bisa Sebabkan Kerusakan Hati

Kacang arab memiliki nilai gizi yang sangat mempuni, yakni 23% protein, 64% total karbohidrat, 5% lemak, 6% crude fiber, 3% abu,  2% natrium,  dan 25% vitamin c.

Adapun klasifikasi ilmiahnya, yakni:

  • Kerajaan: Plantae
  • Klad: Tracheophyta
  • Klad: Angiospermae
  • Klad: Eudikotil
  • Klad: Eudikotil inti
  • Klad: Rosid
  • Klad: Fabid
  • Ordo: Fabales
  • Famili: Fabaceae
  • Subfamili: Faboideae
  • Genus: Cicer
  • Spesies: C. arietinum
KLIK INI:  Menangkal Penyakit Alzheimer dengan Tidur