Kisah Unik Artemis dan Gieke yang Akhirnya Merasakan Sensasi Alam Liar

oleh -9 kali dilihat
Salah satu dari dua individu orang utan Kalimatan yang dilepasliarkan di TNBK Kalimantan, Rabu 19 November 2025 -foto/Ist

Klikhijau.com – Artemis dan Gieke memiliki kisah unik dan menarik. Kedua individu orang utan itu tidak lahir di alam liar, tetapi lahir di Sekolah Hutan Jerora Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS).

Meski begitu, mereka akhirnya merasakan sensasi berada alam liar. Setelah dilepasliarkan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan mitra konservasi.

Artemis dan Gieke merupakan dua individu orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Keduanya berhasil dilepasliarkan di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun pada Rabu, 19 November 2025.

Pelepasliaran orang utan Artemis dan Gieke merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam melestarikan orang utan Kalimantan yang berstatus kritis menurut daftar merah IUCN.

KLIK INI:  Aksi WCD Klikhijau dan Warga Batua Raya III Lorong 4 Makassar Diapresiasi Banyak Pihak

“Pelepasliaran ini merupakan langkah strategis dalam memulihkan populasi orang utan di habitat alaminya. Kolaborasi lintas lembaga dan dukungan masyarakat menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem hutan Kalimantan,” jelas Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria

Memiliki kemampuan menjelajah

Artemis dan Giele adalah orang utan betina. Mereka hanya beda usia. Artemis berusia enam tahun empat bulan. Ia lahir pada 1 April 2019, sedangkan Gieke berusia enam tahun sepuluh bulan. Ia lahir pada 11 Oktober 2018.

Meski tidak lahir di dalam rimba. Keduanya tetap menunjukkan kemampuan menjelajah, mengenali pakan alami dan membuat sarang dengan baik selama mengikuti sekolah hutan.

KLIK INI:  KLHK Mendukung Rencana Aksi Strategis Penanganan Banjir di Kalsel

Selain itu, keduanya juga tidak menunjukkan ketergantungan pada manusia sehingga dinilai siap untuk dilepasliarkan.

Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2017, pelepasliaran ini merupakan tahapan ke-17. Total 37 individu hasil rehabilitasi dan satu individu hasil translokasi yang telah dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun.

Pelepasliaran orang utan Artemis dan Gieke akan tetal dipantau secara intensif menggunakan metode nest-to-nest selama tiga bulan, meliputi pemantauan aktivitas harian, pola makan, pergerakan serta respons terhadap habitat.

KLIK INI:  KOMPAS dan WWF akan Gelar Konservasi Mangrove di Luppung Manyampa

Pemantauan dilakukan untuk memastikan keduanya mampu beradaptasi dengan baik dan hidup mandiri di alam liar.

Kepala Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum, Sadtata Noor Adirahmanta mengatakan, mitra dan jajarannya akan mendukung kegiatan pemantauan setelah pelepasliaran serta peningkatan peran masyarakat sekitar sebagai penjaga garis depan konservasi.

“Tanpa keterlibatan aktif masyarakat, mustahil konservasi dapat berjalan berkelanjutan. Kami berharap keberhasilan ini menjadi inspirasi untuk terus menjaga hutan Kalimantan bagi generasi mendatang,” tutupnya.

Lestarilah satwa Indonesia…

KLIK INI:  Kabar Gembira, Bayi Anoa Kembali Lahir di ABC Manado