Kisah “Mata”, Refleksi Kritis Pendidikan Anak di Indonesia

oleh -531 kali dilihat
Mata-di-Tanah-Melus
Sampul Buku Mata di Tanah Melus

Judul: Mata di Tanah Melus
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: 2018
Tebal: 192 halaman
ISBN: 9786020381329

Okky ‘Puspa’ Madasari, penulis yang senantiasa mewarnai khazanah pengetahuan melalui karyanya yang kental dengan isu-isu sosial dan orang-orang tertindas. Ia kerap kali membawa pembaca hanyut pada sebuah kondisi dan problematika beraneka rupa yang dirasakan para tokohnya.

Karya sastra kerap kali dijadikan Okky sebagai medium menyuarakan pendapatnya akan persoalan ketidakadilan, tirani, dan hal serupa. Tujuannya menulis adalah memberi ruang pada apa-apa yang terabaikan. Tema-tema yang mendominasi karyanya memang jarang disentuh para pengarang lainnya. Setidaknya suara-suara itu bisa kita tilik di sejumlah karyanya. Ialah Entrok, Maryam, Kerumunan Terakhir, Pasung Jiwa, 86, dan kumpulan cerpen Yang Bertahan dan Binasa Perlahan.

Dua tahun belakangan, Okky mencoba genre yang lain melalui buku Mata di Tanah Melus dan Mata dan Rahasia Pulau Gapi. Pun satu karya lagi yang rencananya akan terbit bulan ini. Ketiganya merupakan buku berlabel novel anak.

Serial Mata yang mulanya terinspirasi dari putrinya ini seakan membuat pembaca tersontak, apakah sastra anak karyanya tetap dilekati dengan tema-tema sosial khasnya.

Menyoal Serial Mata yang pertama, Mata di Tanah Melus, berkisah tentang seorang gadis 12 tahun bernama Matara, akrab dipanggil Mata yang bertualang karena ajakan ibunya berlibur ke satu kawasan di Indonesia Timur. Dunia yang serba ganjil menjadi suatu kenyataan baru yang harus ia alami.

Liburan bersama Mamanya ke Belu menjadi pengalaman baru untuknya. Namun begitu menginjakkan kaki di Bandara, hal-hal aneh terjadi. Mobil yang akan membawanya ke hotel menabrak sapi. Ritual upacara yang misterius mengantarkan Mata sampai ke Tanah Melus dan berpisah dengan Mamanya.

Tanah Melus dihuni oleh orang-orang yang sangat menjaga adat istiadatnya. Mereka memiliki bahasa sendiri yang tak bisa dipahami Mata. Mata was-was dirinya tidak akan selamat. Beruntung Ema Nain memberi perintah untuk tetap menjaganya. Bangsa Melus berulangkali meyakinkan Mata bahwa mereka tidak akan membunuh anak-anak dan perempuan. Mata pun memiliki teman bernama Atok. Atok dan keluarganya yang menemani Mata sehingga tak terlalu merasa kesepian.

Dari sini Mata terus mencari cara agar keluar dari Tanah Melus. Dia bersikukuh untuk mencari Mama. Namun usaha mencari Mama tidaklah mudah. Ada banyak rintangan yang harus dihadapi dan keberaniannya sungguh diuji, terlebih oleh Mata dan Atok. Apakah Mata bisa bertemu kembali dengan Mama?

Tania dan Mama yang baik hati, Ema Nain dan Maun Iso yang memiliki peranan penting di Tanah Melus, Ratu Kupu-Kupu yang memiliki kisah yang amat sedih dan masalalu yang kelam, Dewa buaya dan kisah tanah Melus terdahulu, mewarnai cerita buku ini dan digarap dengan apik oleh sang Pengarang.

Saya melihat buku ini sebentuk sastra progresif yang diperuntukkan untuk anak-anak dengan menggabungkan aspek realis dan utopis yang membalut di setiap bagian petualangan Mata.

Novel ini mengandung nilai-nilai yang menentang status quo dan menjunjung kebebasan, keadilan, dan kebenaran. Yang paling menonjol adalah Mama Mata yang bertindak tegas ketika mendapati pendidikan di sekolah Mata yang tidak kritis dan mengajarkan kedisiplinan dengan rasa takut dan amat represif.

Menyoal keadilan, pembaca mendapat sajian perihal Mata yang bertemu dengan bangsa Melus yang menjadi bangsa tertutup karena telah terdesak dan tersisih oleh kelompok-kelompok sosial lain.

Aspek realis dalam novel ini hampir bisa ditemui di novel yang lain, namun ada beberapa yang agaknya tak lazim, yaitu persoalan rumah tangga orang tua dan persoalan sosial yang menyebabkan bangsa Melus tersisih.

Mata dibayang-bayangi konflik rumah tangga orang tuanya, bukan hanya fokus pada petualangan. Hal ini yang membuat Mata seolah tidak menutup mata dari dunia luar.

Menyoal bangsa Melus, Mata menyaksikan bagaimana dampak dari konflik horizontal dalam masyarakat untuk menyisihkan kelompok tertentu. Di buku ini juga terdapat bagian-bagian cerita sebagai representasi upaya-upaya menjaga dan menyeimbangkan relasi manusia dengan alam.

Yang menarik di novel ini, Mama Mata yang digambarkan sebagai seorang yang kritis. Dia berani mempertanyakan gaya ajar guru agama Mata yang terlalu menekankan pada kengerian siksa neraka, juga budaya hedonis di sekolah tersebut. Di lingkungan sosial kita kebanyakan, orang tua jarang yang berani mengambil tindakan tegas dan vokal terkait kebijakan dan tradisi pendidikan yang kurang tepat.

Kisah Mata dengan sifat rasa ingin tahunya yang besar turut membuat cerita ini semakin apik meskipun tidak ada klimaks yang memuncak dan terkadang terkesan tergesa-gesa. Kutipan yang cukup mewakili sifat Mata: Seperti yang pernah aku bilang, orang dewasa selalu tak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana. Anehnya mereka selalu berpura-pura tahu segalanya. (Hal. 34)

Buku ini termasuk buku cerita kanak-kanak mutakhir, yang dilandasi bahwa ada sejumlah masalah dalam kehidupan orang dewasa. Yang utama adalah bagaimana menuju manusia berkehidupan ideal, bahkan lebih baik ketimbang orang dewasa saat ini, yang harus peduli dan menyelesaikan persoalan eksploitasi alam, patriarki, ketidakadilan, marginalisasi kelompok tertentu, dan banyak persoalan lainnya.

Ini sebentuk alasan terbaik mengapa buku ini laik untuk dibaca, bukan untuk anak-anak saja, namun juga diperuntukkan orang dewasa.
Selamat hari Buku Anak. Semoga di Indonesia semakin banyak yang melahirkan buku anak berkualitas dan mutakhir.