Kisah Fitria Wulansari, Kembangkan “Kebun Tetangga” dari Rumah
Klikhijau.com – Apa enaknya berkebun? Banyak! Lebih dari sekadar membuahkan hasil, berkebun melahirkan sejuta berkah. Nilainya bahkan melampaui materi. Berkebun dapat menumbuhkan kepuasan bathin dan rasa bahagia.
Cerita baik perihal berkebun itu dibagikan oleh Fitria Wulansari (39), seorang Ibu rumah tangga inspiratif yang menginisiasi aksi urban farming dari rumahnya. Aksinya lalu berkembang sebagai sebuah gerakan komunitas yang dinamai “Kebun Tetangga”.
Ketertarikan berkebun dimulai saat ia tinggal di Jakarta dan bolak-balik Yogyakarta. Di sana ia banyak melihat pegiat kebun. Ia belajar dari banyak komunitas. Aktivitas padat karena pekerjaan membuatnya jatuh hati pada dunia pertanian urban. Terlebih saat pandemi Covid-19, berkebun adalah kerja-kerja paling aman untuk tetap menjaga kebugaran dan kesehatan mental.
Begitu migrasi ke Kota Makassar, pengalaman dan pembelajaran yang didapatnya mulai dikembangkan. Ia bergiat langsung dari rumahnya, lalu berkembang sebagai suatu inisiatif yang inklusi bernama “Kebun Tetangga”.
Kebun Tetangga dan Panggilan Hati
“Kebun Tetangga” sejatinya sebuah semangat menanam dari pekarangan rumah. Konsep perkebunan urban komunal yang dulu banyak dijumpai di desa-desa atau kampung-kampung.
Perempuan yang menyukai traveling ini memulai inisiatifnya di Samata Gowa akhir Desember 2020. Lalu berpindah ke Pesantren ADDARAEN pada November 2025 dan kini memulai garapan barunya di bilangan Jalan Sultan Alauddin Kota Makassar.
Mbak Wulan, sapaan akrabnya berkebun dengan paradigma “pertanian alami” alias “pertanian organik”. Bukan tanpa alasan, ia menggeluti prinsip ini atas panggilan Nurani demi menjaga lingkungan.
Sebagai contoh, ia mengompos sendiri dengan memanfaatkan bahan organik di rumahnya. Media pengomposan yang digunakan bervariasi antara lain ember tumpuk, rumah kompos, hingga lubang kompos.
Selain menanam aneka sayur-sayuran khas tropis, Ia menanam tanaman yang mudah tumbuh seperti bunga telang dan rosela. Semuanya ditanam alami tanpa penggunaan festisida kimiawi.
Kebutuhan bahan organik didapatkan dengan bermitra dengan peternak kambing di sekitaran Kabupaten Gowa. Kohe kambing sangat baik untuk campuran kompos penunjang nutrisi tanaman. Semua didapatkan dengan sistem barter.
“Kami tidak punya ternak, tapi kami punya pakan. Jadi kami saling bertukar,” ujar Mbak Wulan.
Selama bergiat di Kebun Tetangga, Mbak Wulan memang sudah berhasil mengurangi timbulan sampah ke TPA. Ia memilah dan memaksimalkan pemanfaatan sampah organik secara mandiri.
Selain mengompos, sisa sampah dari dapurnua juga dimanfaatkan untuk ternak. “Waktu di Samata, kami punya peliharaan anjing dan ayam. Kami juga sempat bermitra dengan pihak tertentu untuk pemanfaatan sisa-sisa buah busuk untuk difermentasi sebagai pakan ayam,” tuturnya.
Keberadaan “Kebun Tetangga” saat ini di lingkungan pesantren punya tantangan tersendiri. Terlebih di tengah gencar-gencarnya Pemerintah Kota Makassar mendorong pengolahan sampah berbasis warga. Mbak Wulan terus berupaya mengedukasi dan melibatkan langsung para santri memilah sampah. Namun, bukan perkara mudah untuk memastikan aksi-aksi santri berkesinambungan. “Tidak mudah mengelola mood anak-anak yang memang gampang berubah,” katanya.
Produk “Kebun Tetangga”
Demi menjamin keberlanjutan, Komunitas “Kebun Tetangga” digerakkan dengan semangat organisasi kewargaan. Jadi, ada pembagian peran di dalamnya.
Kepala kebun adalah Mas Syukron, suami Mbak Wulan. Ia sendiri lebih banyak mengurusi bagian produksi, marketing, dan administrasi.
Selain melibatkan anak-anak pesantren, ada dua orang lagi terlibat di bagian produksi. Mereka dulunya adalah mahasiswa magang. “Mereka sudah dua tahun membersamai,” ucapnya.
Produksi andalan “Kebun Tetangga” adalah teh telang, telang kering dan rosela. Ada pula jahe instan, kombucha, sambal roa dan lainnya. Produk-produk ini sudah dipasarkan luas khususnya di Kota Makassar, Gowa hingga Sinjai.
Kebun Tetangga juga bekerjasama dengan TPS3R Makassar untuk mengolah maggot kering.
Meski semangatnya adalah menginspirasi banyak orang, Wulan mengakui betapa sulitnya memperluas ketertarikan warga sekitar. Namun, ia bahagia karena ada banyak anak-anak muda saat ini berminat menggeluti urban farming. Setidaknya banyak anak muda yang tertarik melihat-lihat aktivitasnya.
“Bahkan ada anak-anak muda yang tertarik datang ke tempat kami untuk sekadar menyiram tanaman, sekaligus menggali pengalaman,” tambahnya.
Selain bergiat di lokasinya menanam dan menanam, Mbak Wulan kini semakin dikenal luas sebagai penggerak komunitas. Ia terlibat sebagai narasumber di berbagai diskusi. Untuk mengisi waktu di hari libur, “Kebun Tetangga” juga rutin hadir di CFD Sudirman Kota Makassar. Lebih dari sekadar memasarkan produk-produknya, ia punya intensi membagikan semangat berkebun ala urban.
Pada tahun 2024 silam, komunitasnya pernah mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian yakni program YESS (Youth Entrepreneurship and Employment Support Services) sebesar 50 juta rupiah dalam bentuk alat. Waktu masih bergiat di Gowa, dukungan dari kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) juga pernah didapatnya antara lain mesin pencacah, chopper, solar dryer dan lainnya.
Mbak Wulan tidak pernah padam semangatnya berbagi kebaikan dari aksi sederhana, ia selalu terbuka dikunjungi dan diajak berdiskusi. Ia berpesan kepada warga kota untuk mendukung aksi memilah sampah dari rumah. Aksi memilah menurutnya adalah langkah awal terbangunnya kesadaran mengelola sampah sejak dari sumbernya, sekaligus memantik perubahan kesadaran warga.
Baginya, keterlibatan anak-anak muda sangat penting dalam edukasi lingkungan. “Anak-anak muda harus progresif. Minimal aktif mencari tahu dan terlibat di Sosial Media pada isu-isu lingkungan. Anak muda perlu memulai dari hal kecil semisal terbiasa bawa tumbler dan memilah sampah di kosan,” tuturnya.
*) artikel ini disusun dari hasil wawancara langsung oleh Muhammad Yunus.