Kisah Bestie, dari Perangkap Kandang Jebak Menuju Zona Inti TN Gunung Leuser

oleh -31 kali dilihat
Kisah Bestie, dari Perangkap Kandang Jebak Menuju Zona Inti TN Gunung Leuser
Bestie saat menghirup udara kebebasannya-foto/Ist

Klikhijau.com – Setelah disurvei, ternyata zona inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dihuni beragam satwa, di antaranya kijang dan kambing hutan.

Keberadaan satwa-satwa tersebut jadi makanan empuk bagi harimau. Karena itulah TNGL jadi pilihan untuk melepasliarkan Bestie demi kelangsungan hidupnya.

Bestie merupakan nama yang diberikan pada harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Harimau ini dilepasliarkan pada hari Jumat, 25 November 2022 lalu.

Seharusnya Bestie menghirup udara “kemerdekaan” di alam bebas pada hari Kamis, 24 November lalu. Namun karena cuaca tidak mendukung akhirnya kebebasannya tertunda sehari.

KLIK INI:  Burung Perkutut Putih dan Yuhina Kalimantan Itu, Kini Terbang Bebas

Harimau sumatera merupakan satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Permerintah No. 7 Tahun 1999 dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.

Karena itu, pelepasliaran Bestie oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara. Menjadi salah satu upaya perlindungan terhadap satwa yang mulai terancam punah ini.

Bestie  dilepasliarkan di Keudah, Zona Inti Taman Nasional Gunung Leuser melalui helikopter dengan metode longline dari Bandara Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh.

Lokasi ini dinilai cocok untuk lepas liar mengingat lokasi ini merupakan habitat harimau sumatera dan “Bestie” juga berasal dari Taman Nasional Gunung Leuser.

Apalagi ada hasil survey yang mendukung kecocokan itu, yakni ditemukan tanda-tanda keberadaan satwa seperti rusa, kijang dan kambing hutan yang merupakan mangsa harimau sumatera.

KLIK INI:  PT Baruga Asrinusa Development, Pelopor Kawasan Hunian Hijau
Terperangkap dalam perangkap

Kisah Bestie bermula saat ia masuk perangkap kandang jebak di Sei Sirah, Desa Halaban, Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat.

Kejadian itu terjadi pada Rabu 31 Agustus 2022 yang lalu. Kemudian dilakukan observasi di Lembaga Konservasi Medan Zoo, dengan maksud untuk memudahkan proses pemeriksaan kesehatan satwa sebelum dilepasliarkan kembali.

Hasil pengecekan kesehatan Bestie adalah berat badannya seberat 65 Kg. Sementara suhu tubuhnya normal, sudah tidak ditemukan caplak, luka pada ekor dalam proses penyembuhan, detak jantung dan pernapasan normal.

Setelah pengecekan kesehatan di Lembaga Konservasi Medan Zoo kemudian dilakukan proses persiapan pelepasliaran dari Sanctuary Harimau Sumatera di Barumun, Kabupaten Padang Lawas Utara hari Kamis, tanggal 15 September 2022.

Setelah 3 bulan dirawat di Sanctuary Harimau Sumatera Barumun, Bestie siap dilepasliarkan. Hasil pemeriksaan terakhir berat badannya 80 Kg. Luka ekor sudah sembuh dan secara keseluruhan kondisi dalam keadaan sehat dan layak/siap untuk dilepasliarkan.

KLIK INI:  AXA Week for Good Ajak Karyawan Menjaga Bumi Dimulai dari Rumah

Selanjutnya, pada hari Jum’at 19 November 2022, Bestie dipindahkan dari Barumun, Sumatera Utara ke Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues Provinsi Aceh. Selama dalam perjalanan darat “Bestie” selalu dimonitor oleh Tim BBKSDA Sumatera Utara yang dipimpin oleh Kepala Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan, Gunawan Alza dan Tim Medis oleh drh. Anhar Lubis.

Hari Sabtu, 20 November 2022 Bestie tiba Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Kemudian ditempatkan di halaman kantor SPTN Wilayah III Blangkejeren Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser. Selama di lokasi Bestie diamati, dicek kesehatannya dan dirawat secara itensif.

Akhirnya, pada Jumat, 25 Novemner 2022 proses lepasliarannya dimulai. Bestie diangkut dari SPTN Wilayah III Blangkejeren Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser menuju Bandara Blangkejeren. Selanjutnya Harimau Sumatera “Bestie” diangkut menggunakan helikopter ke lokasi lepas liar.

KLIK INI:  Namaku Sri Nabila, Penghuni Baru Taman Nasional Gunung Leuser

Pelepasliaran ini merupakan kolaborasi berbagai pihak : Direktorat KKH Ditjen KSDAE, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar TN Gunung Leuser, Balai KSDA Aceh, Bupati Gayo Lues, Kapolres Gayo Lues, Dandim Gayo Lues, Bandara Blangkejeren, Yayasan Parsamuhuan Bodhicitta Mandala Medan, PT. Agincourt Resources, Forum Konservasi Leuser (FKL), Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program,Leuser Partnership Program, OIC, serta media.

KLHK selalu berkomitmen untuk menyelamatkan satwa yang terancam punah (harimau sumatera) dari ancaman. Bukti nyata keseriusan KLHK seperti secara berkala melakukan survey lokasi-lokasi keberadaan harimau sumatera sebanyak 121 grid se-Sumatera Utara (termasuk didalamnya TNGL 23 grid dan TNBG 12 grid), membangun areal khusus untuk habituasi (Sanctuary Harimau Sumatera) sebelum dilepaliarkan ke alam, membentuk tim mitigasi konflik harimau sumatera bersama masyarakat. KLHK juga berharap semua pihak dapat ikut melestarikan satwa dilindungi di Indonesia. (*)

KLIK INI:  Peduli Sesama Opab Gempa Makassar Gelar Sunatan Massal