Kenalkan, Ini 8 Orang Penerima Conservation Award 2019 dari BBKSDA Sulsel

oleh -207 kali dilihat
Kenalkan, Ini 8 Orang Penerima Conservation Award 2019 dari BBKSDA Sulsel
para penerima Conservation Award 2019/foto-ist
Irhyl R Makkatutu

[hijau]Mereka mencintai alam demi napas yang lebih panjang[/hijau]

Klikhijau.com – Kursi telah berjejer di taman depan Museum La Galigo ketika saya datang. Kursi-kursi itu menghadap ke sebuah spanduk berwarna jingga.

Pada spanduk itu, tertulis rangkaian kegiatan yang telah dan akan dilaksanakan Balai Besar Konservsi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional 2019.

Salah satu rangkaian acaranya adalah pemberian penghargaan konservasi atau Conservation Award 2019 kepada delapan orang yang dianggap telah berjasa melakukan konservasi alam.

KLIK INI:  Penasaran, Inilah 6 Sosok Penerima Penghargaan Konservasi di Hari Kehati 2019

Kedelapan orang itu adalah para pejuang konservasi yang mengorbnkan waktu, tenaga, bahkan hidupnya untuk melestarikan alam.

Menariknya latar belakang kedelapan penerima itu berbeda. Berikut sekilas tentang mereka:

  • Timous (Bapak Daud)

Usianya telah 84 Tahun. Nama lengkapnya Timotius. Ia kelahiran Mamasa, lebih dikenal masyarakat sekitarnya dengan Bapak Daud yang artinya bapaknya Daud. Beliau tinggal dan dibesarkan di Mamasa.

Bidang keahliannya adalah medis bekerja sebagai mantri sejak jaman penjajahan serta pernah menjabat sebagai Lurah dan Kepala Desa di Taupe, Mamasa.

Sebagai tokoh masyarakat yang dituakan (dihormati) di tempatnya, Bapak Daud mengajak masyarakat ikut menanam pohon di sekitar Kawasan TN Gandang Dewata.

KLIK INI:  Pengabdian Pada Lingkungan Mengantar Kalpataru ke Tangan Baso

Alasannya, karena hasilnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan juga untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kayu yang paling banyak digunakan oleh masyarakat.

Dia pernah hilang selama 1 bulan di gunung dan kembali dengan selamat, tidak ada yang lebih mengenal seluk beluk Gunung Gandang Dewata selain Bapak Daud.

  • Saparuddin Daeng Talli

Nama lengkapnya Saparuddin Daeng Talli atau Daeng Talli. Dia lahir 31 Desember 1973 di Desa Barugaya, Takalar.

Pekerjaannya saat ini Sselain bercocok tanam di kebun dan sawah. Daeng Talli setiap hari mengawasi pembibitan tanaman kehutanan untuk persiapan penanaman pemulihan ekosistem di SM Ko’mara dan TB. Ko’mara

“Saya dulu sering main kucing-kucingan dengan Karaeng Tompo (Polisi Kehutanan senior di Resort Ko’mara),” ungkapnya.

Pada tahun 2000-2007 Daeng Talli adalah pelaku penebangan liar di sekitar Blok Lanrong kawasan SM. Ko’mara, hingga akhirnya tahun 2007 ikut program MMP (Masyarakat Mitra Polhut).

Sejak tahun 2007 aktif melakukan patroli rutin dalam kawasan Suaka Margasatwa Ko’mara baik patroli bersama petugas resort maupun secara mandiri.

  • Prof. Dr. Ir. Amran Achmad, M.Sc

Lelaki kelahiran Enrekang, 20 Juni 1957 ini adalah seorang guru besar dengan bidang keahlian Ekologi Hutan, Konservasi Biologi dan EKowisata Fakultas Kehutanan Universitas Hassanuddin.

KLIK INI:  9 Tokoh Hutan Sosial Mendapatkan Trofi dari Pemerintah, Berikut Daftarnya

Dia menulis berbagai buku konservasi. Dan telah melakukan berbagai penelitian dalam bidang ekologi hutan, ekowisata, satwa liar dan konservasi biologi.

Selain itu, dia banyak terlibat dalam kegiatan perencenaan kehutanan terutama dalam bidang konservasi.

  • drg. Danny Permadi

drg. Danny Permadi pensiunan Letkol (purn) TNI-AL tahun 2006. Dia lulusan Universitas Mustopo Jakarta dan S2 Bidang Biologi Reproduksi di Culalong Corn University , Thailand.

Di samping rumah dokter gigi ini terdapat sekitar 30 kandang yang berisi 30 ekor Luwak (sejenis musang). Luwak itu setiap harinya memakan buah kopi segar untuk menghasilkan kopi luwak berkualitas sebanyak 20 Kg setiap harinya.

Dia melakukan konservasi untuk kesejahreraan. Saat ini sudah ada sekitar 40-an kelompok binaannya di Malino dan sekitarnya. Bahkan ada 15 kelompok binaan di Makale, Kabupaten Tana Toraja, dan 10 kelompok binaan di Kalosi, Kabupaten Enrekang.

  • Martinus Sugiyanto

Martinus sugiyanto, lahir Yogjakarta 20 januari 1983. Saat ini ia menjadi supervisor keeper di Gowa Discovery Park yang menangani berbagai satwa liar.

KLIK INI:  Ami, Ratu Sampah Sekolah di Pulau Dewata

Tahun 2003 -2011 bergabung di Taman Safari Indonesia, Bogor sebagai keeper. Dia pernah mengikuti pelatihan diselengarakan PKBSI dan taman safari tahun 2004 ,mengenai pedoman etika,dan perawatan satwa liar,handling satwa,evakuasi.

Pernah tiga kali mewakili Indonesia di Festival digunma safari park di Tomioka, Jepang selama 9 bulan.

  • Daeng Beta

Dia lahir dan tinggal di Dusun Ramang-ramang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi-Selatan.

Dia telah mengubah Kars Maros ibarat sungai amazon di Amerika Selatan yang memiliki daya tarik wisata yang unik.

Dia telah menjadi motor penggerak warga sekitarnya untuk menjadikan Rammang-rammang sebagai kawasan wisata. Kegiatannya berbentuk kerjasama dengan berbagai lembaga dan kelompok

  • Nevy Jamest Tonggiroh

Bang Nevy, demikian teman- teman pecinta alam kerap menyebut dan menyapanya. Dia sudah malang melintang di dunia kepecintalaman selama puluhan tahun. Tercatat dia adalah mantan anggota Korps Pecinta Alam (KORPALA) Unhas.

Dia beberapa kali menjadi pembicara di seminar-seminar terkait dunia alam bebas. Boleh dibilang, hampir seluruh pecinta alam pernah mendengar sepak terjangnya.

KLIK INI:  Kisah Tini, Perempuan Tuna Netra Penjaga Owa Jawa di Hutan Lekong

Melalui media sosial Bang Nevy mengeluarkan petisi yang menuntut agar GB Bawakaraeng ini segera di”heritage”. Petisi ini sudah ditandatangani oleh hampir 35 ribu orang.

  • Lasamu

Dia lahir di Maddenra, 31 Desember 1959. Bertempat tinggal di Desa Maddenra, Sidrap. Dia secara mandiri aktif menghimbau masyarakat melakukan pengawasan dan pengamanan di kawasan hutan Cenreangin (TWA Sidrap, HL dan HPT)

Tahun 1999 melibatkan diri dalam patroli pengamanan hutan, patroli pencegahan kebakaran hutan, penyuluhan dan kegiatan lainnya bersama petugas Resor TWA Sidrap Melakukan penanaman Rotan secara bertahap di areal seluas ±64 Ha di sekitar HPT.

Kegiatan konservasi alam telah dilakoninya selama puluhan tahun.

KLIK INI:  Cara Beken Bank Sampah Sipakainga Gowa Menjaga Nasabah di Masa Pandemi