Kapus P3E Suma Kembali Gaungkan Pentingnya Eco Masjid

oleh -231 kali dilihat
Kapus P3E Suma, Dr. Ir Darhamsyah
Kapus P3E Suma, Dr. Ir Darhamsyah/foto-Irhyl
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Gagasan Eco Masjid kembali digaungkan Dr. Darhamsyah pada saat diskusi di Rumah Makan Ulu Juku Makassar beberapa waktu yang lalu. Kegiatan yang mengangkat tema Apa Kata Al Quran Tentang Lingkungan Hidup.

Kegiatan tersebut itu terlaksana berkat kerjasama Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawasi Maluku (P3E Suma) Kementerian Lingkungan hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia dan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia.

“Agar tidak mubazir, keran wudu harus dipersempit aliran airnya sehingga biar dibuka full tidak deras airnya keluar,” saran Darhamsyah, Sabtu, 23 Februari 2019.

Eco Masjid seperti yang digaungkan Dr. Darmansyah,  Kepala P3E Suma adalah sebuah upaya menciptakan masjid yang ramah lingkungan, salah satunya adalah tidak membuang air terlalu banyak saat berwudu. Di banyak masjid, kita akan menemukan keran air yang airnya menderas ketika dibuka, bahkan kita bisa temukan keran yang rusak.

KLIK INI: Diskusi Bersama, P3E Suma dan ICMI Ungkap Kata Al Quran Tentang Lingkungan

Konsep Eco Masjid berasal dari dua kata, yaitu Eco dan Masjid. “Eco” diambil dari kata “ecology” yang merupakan terminologi yang erat kaitannya dengan ekosistem, yaitu suatu sistem yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya. Sedangkan Masjid menurut syara (peraturan dalam agama Islam, Red.) adalah tempat yang disediakan untuk salat di dalamnya dan sifatnya tetap, bukan untuk sementara. Jadi, Eco Masjid adalah tempat beribadah tetap yang mempunyai kepedulian terhadap hubungan timbal balik antar makhluk hidup dan lingkungannya (greeners.co).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah menerapkan Eco Masjid tahun 2018 lalu. Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (PLH & SDA MUI) Dr. Hayu Susilo Prabowo mengatakan bahwa salah satu tujuan konsep Eco Masjid ramah lingkungan, yaitu menghadapi ancaman krisis air.

“Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan akan mengakibatkan kerusakan lingkungan sumber daya alam penting seperti air. Kampanye Eco Masjid ini diharapkan juga bisa menangani atau menghadapi krisis air yang berakibat kepada krisis pangan dan sosial,” ujar Hayu.

KLIK INI: Kapus P3E Suma: Dua Strategi Pengurangan Sampah, Tetapi Perilaku Masyarakat Kuncinya

Islam menurut Hayu, memandang ketersediaan air bersih dan sanitasi yang baik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan manusia, namun juga merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai salah satu syarat ibadah, yaitu bersuci dari hadas besar dan kecil.

“Dalam konsep Eco Masjid,  hemat air berarti mengajak umat muslim untuk wudu pada takaran satu mud yang artinya setara dengan volume air pada kedua telapak tangan orang dewasa atau sama dengan 625 – 1.030 ml atau sekitar satu botol air mineral ukuran sedang,” lanjutnya.

Pada tahun 2020 MUI menarget 1.000 masjid yang menerapkan Eco Masjid. Nantinya akan dibuat perlombaan masjid ramah lingkungan seperti perlombaan Adipura dan Adiwiyata. Semoga dengan adanya gerakan Eco Masjid, kita bisa lebih hemat menggunakan air di masjid saat berwudu.(ir)