Kapur Barus, Inovasi Unik Mengusir Babi Hutan tanpa Menyakiti

Klikhijau.com - Botol-botol plastik menggantung indah di kebun Nasir. Isinya bukan air, tapi kapur barus. Jadinya, ada berbagai campuran aroma begitu memasuki kebunnya. Aroma tanah, rerumputan, daun c...

Kapur Barus, Inovasi Unik Mengusir Babi Hutan tanpa Menyakiti
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Klikhijau.com - Botol-botol plastik menggantung indah di kebun Nasir. Isinya bukan air, tapi kapur barus. Jadinya, ada berbagai campuran aroma begitu memasuki kebunnya. Aroma tanah, rerumputan, daun cengkeh, daun kopi hingga kapur barus. Menyatu menyerbu indra penciuman.

Jika Jati Wesi (tokoh dalam novel Aroma Karsa karya Dee Lestari) berkunjung ke kebun Nasir, pasti akan lebih banyak aroma yang akan diciumnya, sebab Jati memiliki indra penciuman terbaik sejagad.

Di antara aroma itu, aroma yang paling baru dan buatan adalah kapur barus. Ada rasa sedikit ngeri jika menciumnya. Baunya mengingatkan pada bau mayat. Bagi mereka yang “penakut” mungkin tak akan betah berada di kebun yang direcoki kapur barus.

Bukan tanpa alasan, kenapa Nasir menaruh kapur barus di kebunnya, dalam botol plastik yang dilubangi sedikit itu. Itu adalah inovasi cerdas dalam menjaga tanamannya. Tanpa harus akkammi. Akkammi adalah menjagai kebun dari serbuan hama babi hutan.

[irp]

Selain akkammi, ada satu istilah lagi yang kerap dilakukan masyarakat untuk mengusir babi hutan dan menjaga tanamannya. Namanya assimpa, ini dilakukan tanpa harus bermalam di kebun, hanya mengunjungi kebun pada malam hari, berbeda dengan kammi.

Selain dua cara di atas, cara lain yang masih terbilang tradisional adalah murang, mengusir babi hutan dengan memburunya, biasanya menggunakan anjing dan tombak. Ini cara yang butuh fisik yang tangguh, sebab harus berlari, menerabas belukar, menyeberangi sungai hingga mendaki bukit atau gunung.

Cara lainnya adalah cappi dan boeng, cappi adalah memasang kain yang telah dicelupkan ke dalam wewangian tertentu lalu dipasang di sekitar lokasi yang potensial dilalui babi hutan. Sementara boeng adalah memasang kain atau benda yang tak lagi terpakai pada kebun atau sawah.

Namun, seiring putaran waktu, cara-cara baru datang mengisi pengetahuan warga. Cara-cara tradisional itu mulai perlahan ditinggalkan, khususnya kammi dan simpa. Namun, berburu masih banyak yang melakukannya. Apalagi Pemerintah daerah Bulukumba pernah mengeluarkan instruksi agar dilakukan murang guna memerangi hama babi hutan yang cukup meresahkan dan merugikan.

[irp]

Cara jitu terbaru

Saat ini, ada dua metode yang dilakukan untuk menghalau atau mengusir babi hutan agar tak merusak tanaman. Menggunakan setrum dan kapur barus.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2