Kampoeng Bambu, Sebuah Upaya Merawat Warisan Leluhur

oleh -634 kali dilihat
Kampoeng Bambu Toddopulia, Maros
Kampoeng Bambu Toddopulia, Maros/foto-Wahyudin Yunus
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Semuanya berawal saat lelaki itu dari sebuah perjalanan ke Pasar Papringan, Temanggung, Jawa Tengah. Perjalanan itu membuat kepalanya disesaki ide. Ia ingin mewujudkan sebuah kampung belajar yang nyaman, dengan suasana belajar citra kampung dan budaya lokal.

Sebuah ide yang brilian dan tak biasa. Hanya untuk mewujudkan ide itu tentulah tak mudah. Dibutuhkan banyak hal, terutama tekad yang bulat serta orang-orang yang mau berjuang bersama.

Di kepalanya sudah ada bayangan tempat yang dianggap paling tepat menelurkan dan menularkan idenya. Ide itu kemudian dikolaborasikan dengan ide pemuda setempat, hingga lahirlah Kampoeng Bambu

Kampoeng Bambu terletak di Desa Toddopulai, Kabupaten Maros, Kecamatan Tanralili. Sebuah desa yang dijamuri rumpun bambu yang luas. Barangkali di Sulawesi Selatan, hanya Kecamatan Tanrilili-lah yang tumbuhi tanaman jenis rumput-rumputan itu, yang memiliki rongga dan ruas di batangnya.

Tumbuhan dengan laju pertumbuhan tertinggi di dunia—yang konon dapat tumbuh 100 cm (39 in) dalam 24 jam. Meski hal ini amat ditentukan dari kondisi tanah lokal, iklim, dan jenis spesies bambu itu sendiri

Maaf, saya lupa perkenalkan nama lelaki itu, namanya Wahyuddin Yunus. Ia lahir di Palopo. Ia menginisiasi  lahirnya Kampoeng Bambu  sebagai pilihan wisata yang nyaman.

***

Sepulang dari Mallawa, pada sebuah siang yang terik. Tak jauh dari gerbang Wisata Bantimurung, saya membelokkan motor ke kiri—tepat di jembatan. Sebelum menyebarang, saya mematikan mesin, melepas helm lalu turun dari motor untuk bertanya.

Seorang lelaki paruh baya menyambut saya dengan tersenyum. Saya membalas senyumnya. Kepadanyalah saya bertanya arah jalan menuju Sungguminas, Gowa

“Iya benar, ikuti saja petunjuk jalannya. Jika ragu, jangan lupa singgah bertanya pada warga,” kata lelaki paruh bayah itu.

Hari itu adalah pengalaman pertama saya akan melintasi daerah tersebut menuju Sungguminasa. Sebenarnya saya telah menggenggam informasi mengenai jalan itu dari teman saya, Nursam. Mantan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kec. Mallawa.

Jalan itu juga bisa tembus ke Bumi Tamalanrea Permai (BTP) dan Jalan Antang, Makassar. Selain menghindari macet dan gerah. Memilih jalan tersebut adalah upaya membunuh rasa penasaran saya.

Saya melajukan Lilan (nama motor saya) dengan kecepatan sedang, setiap ada pangka “jalan bercabang, perempatan atau pertigaan,” petunjuk arahnya jelas. Saya terus saja bergerak hingga memasuki sebuah kampung yang teduh, di kiri kanannya penuh bambu.

“Jangan-jangan bambu yang ada di Makassar berasal dari kampung ini,” batinku. Perjalanana semakin jauh dan pohon bambu pun semakin terasa luas.

Lalu belakangan saya dengar jika di sana telah ada tempat wisata baru, namanya Kampoeng Bambu. Sebuah tempat wisata alam pilihan yang baru, ramah, dan sejuk dengan hamparan sawahnya yang memesona.

Sebuah tempat memelihara ingatan  masa lalu, mulai dari suasana alam, kuliner, hingga permainan yang terbuat dari bambu.

Sayangnya, waktu saya  berusaha membunuh rasa penasaran itu. Kampoeng Bambu belum lahir. Konon, sebelum Kampoeng Bambu tercipta, Desa Toddopulia  biasa saja, bambu hanya dijual dengan cara tradisonal untuk menopang hidup warganya, nyaris tak ada yang menarik.

Masyarakatnya banyak merantau karena mengandalkan bambu dianggap kurang mencukupi. Sekarang, masyarakat bisa menatap masa depan dengan ceria, seceria gesekan daun bambu dan derit batangnya yang ditiup angin sepoi.

***
Semuanya berawal dari perjalanan saat ia mengunjungi Pasar Papringan di Temanggung, Jawa Tengah Lelaki kelahiran Palopo itu, seolah saling menemukan dengan bambu-bambu yang menyesaki Desa Toddopulia.

Ia bersama pemuda setempat kemudian melahirkan Kampoeng Bambu, tempat yang sederhana, namun jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya sangat mewah karena semakin langka sekarang ini.

“Satu hal yang menjadi khas dan patut dikedepankan, desa dengan penghidupannya, menawarkan kesejukan dan kesederhanaan. Ini adalah sumber kemewahan bagi orang-orang yang menetap di kota,” katanya.

Di Kampoeng Bambu, hal-hal yang bersifat modern tak dijadikan prioritas. Kampoeng Bambu Toddopulia hanya ingin mengembalikan dan merawat budaya lokal yang merupakan warisan leluhur, di antaranya sinrili, gambus, dan juga permainan tradisional dari bambu yag pernah ada, juga  makanan khas lokal yang pernah menjadi sajian di masa lalu.

“Kampoeng Bambu Toddopulia dapat juga dipahamkan sebagaia gerak aktualisasi kerinduan akan kampung halaman. Untuk tak menyebutkan ada yang luput di masa lalu,” katanya lagi.

Kehadiran Kampoeng Bambu bukan hanya menjadi tujuan wisata, bukan hanya pelarian dari penat suasana kota dan deadline kerjaan. Tapi lebih dari itu, secara ekonomi Kampoeng Bambu Toddopulia diharapkan punya dampak.

Penataan kuliner khas lokal menjadi fase awal yang akan meningkatkan perekonomian masyarakat, juga bisa menambah wawasan, sebab disiapkan juga buku-buku gratis untuk dibaca.

“Nantinya akan dilanjutkan dengan mengolah bambu yang memberi nilai tambah. Baik pada ornamen maupun upaya kreatif baru dari olahan bambu.” terang Wahyuddi.

Lelaki yang menjabat sebagai staf di Lembaga Studi Informasi dan Media Massa (eLSIM) Bidang Manajemen Pengetahuan itu berharap Kampoeng Bambu bisa menaikkan citra bambu yang selama ini hanya menjadi tiang penopang bangunan, tusuk gigi, dan tusuk sate.

Alumni Universitas Hasanuddin tahun 2001  tersebut  telah mengenalkan wajah lain dari bambu dan Desa Toddopulia dengan manis.

“Masyarakat di Kampoeng Bambu Toddopulia akan terus menjaga dan merawat  kelestarian bambu, dengan tak menebang pohon bambu pada bulan September setiap tahunnya,” tutupnya

***
Jika kelak saya kembali melewati jalan itu. Saya akan singgah menikmati  wisata alam yang alami tersebut, tempat belajar kesederhaan khas kampung, tempat menikmati makanan tradisional yang pernah jaya di masa lalu. Tempat bernostalgia dengan bambu.

Bagaimanapun, sebagai orang yang lahir dan besar di kampung, bambu memiliki kenangan tersendiri, ketika membuatnya menjadi layang-layang, mobil-mobilan, longga dan tentu saja tembak-tembak bambu dengan peluru kertas yang telah dibasahi lalu dipelintir menjadi bulat kecil.

Barangkali kamu ingin menciptakan kenangan atau punya kenangan dengan bambu, berkunjunglah ke Kampoeng Bambu untuk menciptakan atau merawat kenangan itu!