Jurnalis dan Komunitas Perlu Suarakan Energi Kotor sebagai Kejahatan Kemanusiaan

Klikhijau.com - Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) terakhir memperlihatkan trend kenaikan produksi karbon meski telah ada sejumlah kesepakatan dan keinginan dunia menurunkann...

Jurnalis dan Komunitas Perlu Suarakan Energi Kotor sebagai Kejahatan Kemanusiaan
Bacakan Artikel

Sederhananya, hanya ada dua pilihan hidup bagi anak muda saat ini, yakni tetap bertahan hidup dalam krisis iklim atau berjuang menjawab krisis iklim tersebut.

“Masalahnya, anak muda cenderung seolah sebagai subjek yang harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan penuh saat ini. Padahal situasinya anak-anak muda ini diwariskan tanpa ada kebijakan yang mendukung dan menopang, terutama kebijakan politik (generasi tua),” ujar Melissa Kowari, Koordinator Nasional Extinction Rebellion (XR) Indonesia, Jeda untuk Iklim.

Misalnya anak-anak muda memiliki kegiatan intensif mengendalikan sampah plastik, sementara Pemerintah masih terus mengizinkan mengimpor plastik yang menambah tumpukan sampah plastik itu sendiri.

“Generasi tua membuat generasi muda makin banyak pekerjaan memperbaiki kondisi iklim saat ini. Beban anak muda yang keresahan dan kegelisahan iklim yang terus memburuk ke depannya,” ujar Melissa.

Saat ini menyuarakan krisis iklim bukan hanya tentang krisis lingkungan, namun merupakan  krisis  kehidupan.  Dari  data   BNPB,   jumlah   korban   jiwa   yang terdampak makin meningkat, baik korban bencana hingga bencana ekonomi yang diakibatkan ketidakadilan sistemik.

“Upaya anak-anak muda ialah membangun kesadaran kolektif, mengaplikasi bagaimana anak-anak muda mesti panik dengan kondisi krisis lingkungan saat ini. Mendorong Pemerintah melalui people power tersebut,” ujar dia.

Anak-anak muda pun terus melakukan langkah politik baik dari tataran atas (top up) ataupun gerakan di tapak.

“Anak-anak muda pun telah banyak memulai, seperti startup ekonomi dan bisnis hijau, hingga gerakan-gerakan masif telah dilakukan dari langkah ditempuh seperti gerakan menyatakan darurat iklim hingga melaporkan kerusakan/krisis iklim merupakan pelanggaran HAM saat ini,” kata Melissa.

Kolaborasi sendiri sangat diperlukan anak-anak muda bersama media, bagaimana menyuarakan, menyebarluaskan contoh baik hingga membawa isu krisis iklim dalam setiap pembicaraan publik lintas isu.

“Kita butuh semua orang, untuk menyebarluaskan ini. Meski sebenarnya hal ini seharusnya dilakukan Pemerintah yang masih salah arah saat ini,” ungkap dia.

Sedangkan pembicara Adhityani Putri, Yayasan Cerah Indonesia lebih menyoroti bagaimana agar media editorial memiliki lima agenda kedepannya membunyikan krisis iklim.

Mulai dari media memiliki agenda membahasakan krisis iklim melalui bedah dokumen NDC Indonesia terbaru (terupdate) bagi pakar dan anak muda untuk mengkritisi. Agenda media lainnya ialah mengkritisi transisi energi berkeadilan.

“Hal yang perlu disoroti lainnya yakni soal pendanaan hijau bagi pemulihan ekonomi dan krisis iklim. Media pun dapat menyoroti kolaborasi anak muda, krisis iklim, dan politik (kebijakan). Apalagi menjelang tahun 2024, akan banyak ruang bagi suara anak muda menyoroti konflik kepentingan antara politikus dan kepentingan bisnis (oligarki) jelang 2024,” ujar dia.

Setelah Editorial Forum, SIEJ dan Yayasan Cerah Indonesia akan menggelar rembuk iklim jurnalis dan anak muda di empat kota, yakni Semarang, Denpasar, Surabaya dan Yogyakarta.

SIEJ berharap, kegiatan membunyikan krisis iklim ini makin kencang dalam newsroom media. Semakin banyak peliputan krisis iklim terwujud dari kolaborasi bersama, baik antara jurnalis dan komunitas anak muda saat ini. “Melalui peliputan (reporting) tentu memberikan ruang, menjadikan krisis iklim sebagai kedaruratan kemanusian bersama,” ujar Plt Ketua SIEJ, Joni Aswira Putra.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2