Jarolli Tak Lagi Terbang Menuju Gunung Bawakareang
Klikhijau.com – Berada di jalan pada jelang malam. Jadi waktu yang riuh oleh suara burung jarolli yang lebih dikenal dengan nama burung perkici pelangi. Pada pagi hari, juga akan demikian. Jarolli...
Klikhijau.com – Berada di jalan pada jelang malam. Jadi waktu yang riuh oleh suara burung jarolli yang lebih dikenal dengan nama burung perkici pelangi.
Pada pagi hari, juga akan demikian. Jarolli akan terbang meneluri jalan menuju ke timur dan jelang malam akan terbang kembali menuju barat, ke arah Gunung Bawakaraeng.
Itu, jika kamu datang sekitar tujuh atau sepuluh tahun lalu. Sebab jika kamu datang sekarang ke Kindang, tepatnya di Desa Kindang. Kicau perkici pelangi akan sulit kau dengar.
Jika orang dulu hanya mengambil anak jarolli saja, agar bisa dilatih berbicara, maka beberapa tahun terakhir orang menangkap induknya juga menggunakan jala.
[irp]
Cara mereka “menghabisi” perkici pelangi adalah memasang jala di jalan yang akan ditempuh pulang pergi. Hal lainnya adalah, semakin banyak senjata angin, atau yang biasa dipakai masyarakat menembak burung menghuni rumah warga.
Dan sepertinya bukan hanya perkici pelangi yang mulai nyaris hilang, tapi banyak jenis burung lain. Namun, kasus perkici merah terasa miris sebab ditangkap dengan cara “brutal” menggunakan jala. Pelakunya menurut orang-orang di desa Kindang adalah penduduk dari luar desa.
Warga tak bisa protes lebih keras, mereka hanya bisa menyayangkan jarolli yang perlahan mulai langka, bahkan saat pohon-pohon tempatnya biasa bertengger mencari makan berbunga, kicaunya terasa senyap. Tak lagi seriuh dulu.
Ketika pulang kampung, saya kerap merindukan kicaunya di belakang rumah. Juga merindukan suara kepakan sayapnya yang riuh ketika sore hari. Ketika kawanan burung itu kembali terbang menuju barat, menuju Bawakaraeng.