Jangan Anggap Remeh, Ini Efek Buruk Abu Vulkanik Menurut Ahli
Klikhijau.com – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menyebar. Sebarannya bahkan telah menjangkau hingga enam provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera.
Meski begitu, hingga saat ini status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III (Siaga).
Dampak yang ditimbulkan erupsi Gunung Anak Krakatau mulai dirasakan. Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, misalnya. Harus membatalkan 72 penerbangan dengan total hampir 5.000 penumpang terdampak.
Selain itu, dampak paparan abu vulkanik bagi kesehatan juga menjadi sorotan. Menurut Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sebagaimana dilansir dari CNN, abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu, 6 September 2026 bisa membahayakan. Pasalnya, material ini berbeda dengan debu biasa yang lunak dan mudah disaring.
"Berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm)," ujar Daryono dalam keterangannya, Minggu, 6 September 2026 sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.
Ukurannya yang sangat halus tersebut, menurutnya memungkinkan abu menembus sistem penyaringan alami di hidung dan meluncur langsung menuju saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus paru-paru.
Lebih jauh, ia juga menjelaskan bahwa secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral.
"Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," tuturnya.
Dampak dari paparan abu vulkanik bukan hanya memicu peradangan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi parah, rasa terbakar pada mata, serta gangguan pada kulit.
“Dalam jangka pendek, paparan abu ini langsung memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, sesak napas, terutama bagi penderita asma, serta iritasi mata,” jelasnya.
Bagaimana dengan jangka panjangnya, menurut Daryono, endapan silika bebas yang tertimbun di dalam paru-paru dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen (silikosis), yang berisiko menurunkan fungsi paru-paru secara drastis.
Lalu langkah apa yang harus ditempuh untuk meminimalkan risiko tersebut, Daryono menyarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat terjadi sebaran abu.
Jika terpaksa harus beraktivitas di luar, penggunaan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi, seperti tipe N95 atau KN95, sangat dianjurkan karena masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk melindungi sumber air dan makanan agar tidak tercemar kandungan silika dan asam dari abu vulkanik.
Selain itu, masyarakat juga mesti mematuhi rekomendasi mitigasi dan tidak mencoba mendekati area penyeberangan laut di sekitar kompleks Krakatau sesuai garis batas aman yang telah ditentukan. Agar risiko terpapar abu vulkanik bisa terhindarkan.