Isu Lingkungan Tak Seksi di Debat Capres-Cawapres, Apa karena Ada yang Masuk Angin?
Klikhijau.com - Yang seksi dari debat pertama Calon Presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) boleh jadi seputar isu ekonomi dan masalah kebijakan. Perdebatan mengenai isu lingkungan agaknya...
Klikhijau.com - Yang seksi dari debat pertama Calon Presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) boleh jadi seputar isu ekonomi dan masalah kebijakan.
Perdebatan mengenai isu lingkungan agaknya tidak terlalu tersentuh. Apakah karena masalah lingkungan belum sepenuhnya jadi prioritas berbangsa?
Padahal, isu lingkungan sejatinya menjadi topik utama dan dari sanalah titik kisar perdebatan.
Dosen Departemen Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Ridho, membenarkan hal tersebut.
Menurutnya, isu lingkungan merupakan hal krusial yang semestinya mendapat tempat spesial dalam debat Capres-Cawapres.
Alasannya, saat ini lingkungan hidup di Indonesia mengalami kondisi sakit parah.
[irp]
Aktivis muda Muhammadiyah ini, mencontohkan betapa lahan-lahan yang tadinya menjadi penyangga ketersediaan air bagi kehidupan, kini beralih fungsi menjadi lahan industri, perumahan dan lainnya.
Bayangkan, kata Ridho, betapa banyaknya kasus tanah longsor dan banjir di banyak wilayah—semua itu akibat kerusakan lingkungan yang sangat massif.
Oleh sebab itu, tegas Ridho, isu lingkungan perlu dihadirkan pada debat untuk melihat seberapa peduli para kandidat menjadikan isu lingkungan sebagai prioritas dalam kabinetnya, kelak.
Isu lingkungan dalam debat Capres-Cawapres juga penting, lanjut Ridho, untuk mengetahui konsep para kandidat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Terutama, dalam hal merespon masalah pengrusakan lingkungan.
Faktanya, isu lingkungan selain tidak seksi bagi kandidat, juga tidak seksi bagi masyarakat.
Mayoritas pemilih di Indonesia mungkin tak memikirkan betapa pentingnya isu ini menjadi prioritas dalam kebijakan pemerintah.
“Masyarakat kita kurang peduli pada pelestarian lingkungan. Masyarakat kita seringkali baru peduli jika sudah terjadi permasalahan atau bencana secara langsung,” kata Ridho.
Setali tiga uang, ada fakta politik yang tidak bisa disembunyi yakni adanya kartel politik antara politisi dan konglomerat. Tidak sedikit elit partai yang disupport oleh konglomerat pengrusak hutan.
Walhasil, para politisi pun terkesan tidak mau terbuka dan jujur dalam membuka fakta-fakta di balik menjamurnya masalah lingkungan di Indonesia.
[irp]