Inovasi Riset Zapa Emas, Olah Limbah Alam Jadi Pewarna Alami Ramah Lingkungan

oleh -33 kali dilihat
Inovasi Riset Zapa Emas, Olah Limbah Alam Jadi Pewarna Alami Ramah Lingkungan
Inovasi Zapa Emas - Foto: Ist

Klikhijau.com – Upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat terus dikembangkan oleh para peneliti di Sulawesi Selatan.

Salah satu inovasi menarik datang dari tim riset Zapa Emas Berdikari yang dipimpin oleh Dr. Zulfitriany D. Mustaka, SP., MP., dengan fokus pada pemanfaatan limbah alam sebagai bahan pewarna alami untuk kain dan batik.

Dalam riset yang telah berjalan selama enam bulan di laboratorium, tim ini berhasil mengolah berbagai limbah organik seperti sabut kelapa, kulit rambutan, kulit manggis, biji alpukat, serta kayu secang menjadi pewarna alami dengan hasil warna yang beragam dan tahan lama.

“Dari kayu secang kita bisa mendapatkan warna agak pink. Dari sabut kelapa itu bisa menghasilkan warna krem sampai coklat. Kulit manggis memberi warna kuning sampai kemerahan, sedangkan dari beja alpukat kita bisa mendapatkan warna yang agak ungu. Untuk kulit rambutan hasilnya bisa kuning hingga kehijauan” jelas Dr. Zulfitriany saat ditemui Pada acara SEMESTA Panen Raya Berdikari 2025 di acara yang digelar di Lobby Tokyo Phinisi Point Mall (PIPO), Makassar, Sabtu (8/11/2025)

Ia menambahkan bahwa variasi warna yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh proses pengeringan dan kondisi lingkungan tempat pewarnaan dilakukan. “Di berbagai daerah, pH air yang digunakan dalam proses pencelupan ternyata berpengaruh pada hasil warna. Jadi kami masih akan terus melakukan uji lapangan bersama para pembatik di kabupaten-kabupaten yang siap mengadopsi teknologi ini,” ujarnya.

KLIK INI:  Memetik Pelajaran dari Burung Elang Demi Hidup yang Lebih Hidup

Riset ini tidak hanya berorientasi pada hasil warna yang menarik, tetapi juga pada efisiensi dan keamanan proses produksi. Dr. Zulfitriany menjelaskan bahwa metode mordanting yang digunakan timnya jauh lebih singkat dibandingkan metode konvensional.

“Kalau biasanya proses mordanting paling cepat lima jam, kami hanya butuh dua menit saja. Tidak ada perebusan, tidak ada perlakuan suhu tinggi. Dengan pencelupan tiga kali saja sudah menghasilkan warna yang sangat bagus, sementara orang lain bisa sampai dua belas bahkan dua puluh kali pencelupan,” terangnya.

Selain efisien, proses ekstraksi pewarna alami ini juga sangat ramah lingkungan karena tidak menggunakan api atau bahan kimia tambahan. “Kami hanya melakukan maserasi selama satu malam, sekitar 24 jam, dan sudah mendapatkan ekstrak warna dengan kualitas tinggi,” tambahnya.

Produk pewarna alami hasil riset ini kini sudah mulai dikenal di kalangan desainer lokal maupun nasional. Beberapa kain hasil pewarnaan alami dari tim Zapa Emas Berdikari telah digunakan oleh desainer di Makassar dan bahkan tampil di ajang-ajang nasional. “Sekarang kain-kain hasil riset kami sudah banyak dipakai oleh desainer. Kalau ke Trans Studio Makassar, sudah ada beberapa yang menggunakan kain kami. Kami juga sudah berkolaborasi dengan desainer yang memasarkan produk ini ke tingkat nasional, bahkan dipakai oleh pejabat seperti ibu menteri dan ibu gubernur,” kata Dr. Zulfitriany.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kemandirian daerah dalam produksi sandang, terutama di Sulawesi Selatan. Menurutnya, riset ini tidak hanya menyoroti aspek lingkungan, tetapi juga berpotensi besar meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.

KLIK INI:  Halo-Halo Karhutla, Cara Kalimantan Barat Kampanyekan Zero Asap

“Riset saya memang fokus pada bahan-bahan yang ada di Sulawesi Selatan. Misalnya, kalau pengrajin butuh pewarna dan stoknya habis, mereka bisa langsung memanfaatkan sabut kelapa atau bahan lain yang tersedia di sekitar mereka. Cukup direndam semalaman, pewarnanya sudah siap digunakan. Ini membuat kita tidak bergantung pada pasokan dari luar daerah,” jelasnya.

Melalui program yang diberi nama “Zapa Emas Berdikari”, singkatan dari “Satuan Pewarna Alam untuk Ekonomi Mandiri dan Sejahtera Masyarakat”, Dr. Zulfitriany berharap inovasinya dapat mendorong kemandirian sandang di Sulawesi Selatan dan memperkuat posisi daerah sebagai pelopor pewarna alam di Indonesia.

“Selain ramah lingkungan, riset ini bisa memandirikan sandang di Sulawesi Selatan. Saya ingin batik-batik dengan corak khas Sulawesi Selatan, seperti corak lontara, benar-benar dibuat oleh masyarakat kita sendiri, bukan dari luar daerah. Semua bisa dilakukan dengan cara tradisional, bahkan dengan tulis tangan,” tutupnya dengan semangat.

Dengan riset berkelanjutan dan pendekatan berbasis kearifan lokal, inovasi pewarna alami dari tim Zapa Emas Berdikari menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan, penelitian, dan kepedulian lingkungan dapat berjalan seiring untuk menciptakan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

KLIK INI:  Rumah Nol Energi, Ide Keren Mahasiswi Unhas Perkuat Misi Energi Terbarukan