Hari Hutan Sedunia, Saat Tepat Merawat Kesadaran akan Pentingnya Peran Hutan
Klikhijau.com – Jagad raya twitter ramai oleh ucapan selamat Hari Hutan Sedunia. Namun, ucapan serupa itu tak banyak saya ditemukan di media sosial lain, semisal facebook. Apakah pengguna twitter l...
Klikhijau.com – Jagad raya twitter ramai oleh ucapan selamat Hari Hutan Sedunia. Namun, ucapan serupa itu tak banyak saya ditemukan di media sosial lain, semisal facebook.
Apakah pengguna twitter lebih peduli pada kelestarian hutan? Tentu terlalu dini jika harus disimpulkan.
Namun, satu fakta yang perlu pahami, peringatan Hari Hutan Sedunia atau International Day of Forest. Memang belumlah terlalu tenar, usianya juga belum terlampau lama.
Meski demikian, ucapan peringatan yang disertai dengan harapan dan juga “bela sungkawa” tetap ramai di dunia maya. Entah bagaimana di dunia nyata.
Saking banyaknya ucapan itu, bahkan Kantor Staf Presiden juga menuliskan ucapannya “Mari kita jaga bersama-sama agar hutan kita tetap bersih. Karena hutan adalah masa depan kita,” demikian kicau @KSPgoid lengkap dengan gambar ucapan peringatan Hari Hutan Sedunia 2021.
Di antara ucapan harapan dan “belasungkawa” para penggunan twitter, saya cukup tertarik dengan ciutan dari Executive Director Yayasan Pusaka, Franky Samperante @angkytm.
[irp]
“Hutan sumber hidup masyarakat adat. Lagu ini ungkapa suara hati perempuan adat Wambon: Hutan untuk perusahaan, hutan tidak boleh dijual. Kalau dijual kita tidak bisa makan sagu, kita tidak bisa makan daging, nanti kita hidup susah,” tulisnya memberi keterangan pada video yang ia unggah.
Video berdurasi 0, 44 detik itutersebut menampilkan 2 perempuan sedang menyanyi, yang kumudian menapilkan hutan sebagai latarnya, sebagian telah berubah jadi lahan perkebunan.
Sementara itu, beberapa akun twitter juga menginformasikan bahwa setiap enam detik, dunia kehilangan hutan primer seluas lapangan bola. Kabar itu tentu mengejutkan dan mengerikan.
Sedangkan Wikipedia mencatat, dalam setahun dunia kehilangan 13 juta hektare hutan. Luas hutanyang yang menghilang dari muka bumi itu setara dengan dengan luas negara Inggris.
Kehilangan hutan seluas itu merupakan kehilang ekosistem yang ada di dalamnya, termasuk spesies tumbuhan dan hewan langka. Sekitar 80% keanekaragaman hayati berdiam di hutan.
Sebenarnya, tidak perlu Ada Hari Hutan Sedunia, sebab setiap hari bahkan jam sudah selayaknya dirayakan sebagai Hari Hutan. Itu jika disadari bahwa hutan adalah paru-paru dunia—tempat banyak mahkluk hidup menggantungkan hidupnya, termasuk manusia—tentunya.
[irp]