Goa Hawang dan Lelaki yang Mematung Memegang Tombak di Maluku

oleh -400 kali dilihat
Wisata Goa Hawang
Wisata Goa Hawang
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Indonesia, negara yang memiliki keindahan alam yang sangat luar biasa. Beribu pulau yang ada membuatnya memiliki potensi alam yang tak terhitung jumlahnya. Mulai dari dataran tinggi, dataran rendah, sampai ke lautan.

Pada tahun 2017, Indonesia menempati urutan ke-6 sebagai negara terindah di dunia dan menempati posisi pertama di Asia Tenggara, seperti dirilis situs travel Rough Guides.

Keindahan alam ini tentu saja tak pernah lepas dari mitos dan legenda. Bahkan hampir atau mungkin saja semua tempat di negara kita ini memiliki mitosnya sendiri. Tidak terkecuali dengan lokasi-lokasi wisata. Mitos dan legenda yang dituturkan oleh masyarakat sekitar biasanya mengenai makhluk yang mendiami tempat itu atau asal-muasal tempat tersebut.

Klikhijau.com kali ini akan membahas tentang sebuah gua di Maluku bernama Goa Hawang. Goa Hawang merupakan salah satu destinasi wisata mengagumkan yang terletak di Pulau Kei Kecil, tepatnya di Desa Letvuan sekitar 15 KM dari Tual, Ibukota Maluku Tenggara.

KLIK INI: Jika ke Sopeng, Ini Wisata Alam yang Harus Dikunjungi dan Bersiaplah Jatuh Cinta

Destinasi wisata yang satu ini cukup tersembunyi. Meski lokasinya terpencil, siapapun yang mengunjungi Goa Hawang dijamin akan takjub oleh keindahan alamnya.

Orang-orang lokal menamai tempat ini Wisata Air Goa Letvuan karena letaknya di Desa Letvuan. Sedangkan Goa Hawang jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti arwah. Sebagian besar warga Kepulauan Kei, Maluku, percaya bahwa Goa Hawang ini didiami oleh banyak hantu.

Goa Hawang tempo dulu

Selain pemandangannya, Goa Hawang tentu saja tidak lepas dari mitos. Konon, di dalam gua terdapat batu yang melambangkan seorang lelaki pemburu yang memegang tombak bersama dua ekor anjing. Kisah yang beredar mengatakan, suatu waktu lelaki itu pergi berburu babi hutan bersama kedua anjingnya. Ia mengejar babi hutan itu hingga ke dalam gua. Tiba-tiba babi hutan yang diincarnya mendadak hilang saat memasuki gua.

Karena emosi, lelah dan haus, lelaki itu lalu meminum air gua. Haus yang dirasakan bukannya hilang, emosinya malah kian memuncak karena ternyata air gua itu rasanya sangat pahit.

Ia pun marah besar dan mengucapkan sumpah serapah di dalam gua ini, sehingga ia dan kedua anjingnya dikutuk menjadi batu.

Awalnya, Goa Hawang dianggap angker oleh warga setempat. Tetapi, seiring berjalannya waktu dan kepercayaan warga yang terbentuk, gua ini kini justru dianggap sebagai tempat suci yang dipakai untuk bertapa atau bersemedi. Bahkan, para ibu meyakini jika mendambakan buah hati, masuklah ke dalam gua agar bisa memiliki anak.

Tidak hanya itu, air alami yang bening dan jernih di Goa Hawang ini juga dipercaya bisa membuat awet muda dan enteng jodoh. Tidak heran, banyak orang mendatangi gua ini dengan berbagai tujuan dan keyakinan.

KLIK INI: Panorama Hijau Tebing dan Pantai Marumasa di Selatan Sulsel

Namun, tidak ada yang tahu persis kapan gua ini ditemukan. Menurut penuturan penduduk setempat, gua ini ditemukan oleh para tetua di Kepulauan Kei sejak lama. Gua ini sebenarnya terhubung langsung dengan mata air Evu melalui sungai bawah tanah. Mata air Evu sendiri merupakan sumber mata air terbesar di Kepulauan Kei.

Terlepas dari benar dan tidaknya mitos tersebut, Goa Hawang tetaplah menarik untuk dikunjungi. Kejernihan airnya yang berwarna biru, segar dan dingin, menjadi daya tarik tersendiri di gua ini. Sensasi alamnya bisa dirasakan dengan berenang dan diving.

Di Goa Hawang terdapat dua buah lubang. Lubang tersebut dihubungkan oleh sumber air bawah tanah sehingga ketika mencoba diving dari satu lubang, Anda bisa tembus menuju ke lubang lainnya.

Saat laut pasang, air di gua ini bisa naik hingga ketinggian 3 meter. Karena itu, buat yang tidak bisa berenang disarankan untuk berhati-hati dan berdiam di pinggir kolam saja.

Untuk sampai ke sana, Anda bisa menggunakan angkutan umum atau kendaraan sewaan. Jika telah sampai ke tempat parkir, hanya perlu berjalan beberapa meter saja lalu menuruni tangga. Datanglah pada sore hari untuk penerangan yang lebih baik.

Jika hari libur, berkunjunglah ke Goa Hawang. Di sana Anda bisa melihat langsung batu kutukan yang dimitoskan oleh masyarakat setempat.(ik)

Dari berbagai sumber.