Ecobrick dari Russel Maier Hingga ke MA GUPPI Kindang
Klikhijau.com – Semakin padat, semakin bagus. Begitulah sifat ecobrick. Membuatnya pun cukup mudah. Hanya dibutuhkan botol bekas, kumpulan plastik bekas pakai, gunting, dan batang kayu. Kayu digunakan...
Klikhijau.com – Semakin padat, semakin bagus. Begitulah sifat ecobrick. Membuatnya pun cukup mudah. Hanya dibutuhkan botol bekas, kumpulan plastik bekas pakai, gunting, dan batang kayu. Kayu digunakan untuk memadatkan sampah yang terkurung dalam botol plastik.
Potonglah plastik-plastik bekas pakai menjadi potongan-potongan kecil, masukan ke dalam botol, dan mampatkan dengan tusuk kayu sampai benar-benar padat. Jika botol terisi penuh, satu buah ecobrick telah jadi.
Selain cara membuatnya mudah, ecobrick juga dipercaya bisa mengatasi persoalan sampah plastik yang telah menjadi teror menyeramkan.
Menyadari kemudahan itu dan manfaatnya, Madrasah Aliyah Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Indonesia (MA GUPPI) Kindang, Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Bulukumba membuat gebrakan dengan melakukan pembuatan ecobrick di sekolahnya, Rabu, 12 Febuari 2020 lalu.
[irp]
MA GUPPI melakukan hal itu bukan tanpa alasan, sebab dianggap sebagai salah satu upaya untuk mengurangi sampah plastik, khususnya di lingkungan sekolah.
Adalah Russel Maier, seniman asal Kanada yang pertama memperkenalkan ecobrick. Setelah dia menyelesaikan mengenai proyek ecobrick-nya di Indonesia.
Ide itu didapat ketika Maier mencari cara bagaimana mengatasi plastik-plastik bekas pakai yang banyak di lingkungan.
Hingga pada suatu hari ketika dia berada di lembah Sagada, Filipina, gagasan itupun muncul. Maier sadar jika plastik memiliki sifat yang anti air, awet, tak mudah dihancurkam, hingga yang tak banyak diketahui orang bisa menahan peluru.