Demi Sampah, MTS Dorong Pemberdayaan Berbasis Komunitas dengan 4 Implementasi di Lapangan

oleh -121 kali dilihat
Lima Fakta Mengapa IRT di Makassar Acuh Pilah Sampah dari Rumah
Ilustrasi sampah plastik - Foto/ OCG Saving The Ocean dari Unsplash
Wahyuddin Junus

Klikhijau.com – Saat ini, pengelolaan sampah masih menjadi momok yang mengkhawatirkan. Salah satu persoalan terberat dihadapi Kota Makassar yang perlu penanganan serius.

Cakupan regulasi sampah seperti UU No.18/2008 tentang Sampah dan Peraturan Pemerintah No 81/2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, dipandang tidak efektif untuk mengurangi tumpukan sampah.

Derajat capaian pemerintah tidak cukup hanya membuat target pengurangan sampah dengan program Bank Sampah, karena  penanganan sampah harus dapat melibatkan semua pihak. Perlu ada terobosan besar, demi pengurangan dan pengelolaan sampah.

Dengan parameter sederhana yakni sampah yang masuk TPA berkurang. Upaya terobosannya misalnya ekonomi sirkular sampah masyarakat melalui skenario pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas.

KLIK INI:  Polusi Cahaya Pengaruhi Kehidupan Liar, Ini Dampak Buruknya

Basis pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas adalah upaya membuat masyarakat menjadi mandiri dan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi, terutama kesejahteraan ekonomi di tingkat keluarga.

Topik bahasan tersebut menjadi salah satu benang merah dari Dialog Awal Tahun (14/1/2022) yang dilaksanakan oleh komunitas gerakan ‘Manggala Tanpa Sekat’ (MTS).

Dialog kali ini dengan mengusung tema, Optimalisasi Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Komunitas di Kecamatan Manggala, Forum ini juga menjadi wahana diskusi dan bersilaturrahmi dari berbagai komunitas yang ada di Manggala.

MTS, sebagai  salah satu komunitas yang mencoba bergerak untuk mengurai benang kusut apa yang terjadi di Manggala, terutama persoalan pengelolaan sampah yang mendesak ditangani.

Diskusi Jum’at malam (14/1/2022), di Warkop Chemistry Antang diikuti oleh berbagai lembaga dan komunitas se-Kecamatan Manggala.

Hadir sebagai pembicara antara lain: Makmur dari Yayasan Pabbata Ummi, Syamsuddin Simmau, Sosiolog Maupa, Zakaria Ibrahin dari Usahawan, dan Mashud Azikin selaku inisiator Komunitas Manggala Tanpa Sekat.

KLIK INI:  Kota, Sampah dan Kenangan dari Manggala
Mendesaknya pengelolaan sampah

Menurut Makmur, sampah tak lagi identik dengan bau busuk. Selama kurang lebih 31 tahun bersama payabo di TPA Tamangapa, Antang, ia mengtasbihkan ‘Sampahmu Hidupku’.

Slogan ini terasa pas kalau sampah adalah pilihan hidupnya dalam beraktivitas. Menurut data sampah yang masuk di TPA Tamangapa, Antang sekitar 1200 ton perhari.

Karena itu, pengelolaan sampah yang tepat mendesak untuk dilakukan. Tanpa langkah yang tepat, segudang masalah terkait pengelolaan sampah berpotensi terus membebani.

“Apalagi, sampah yang dikumpulkan semakin menggunung di TPA,” ucap Makmur. Potret gunung sampah menimbulkan kekhawatiran dan sewaktu-waktu dapat menciptakan bencana.

Perlu pengelolaan sampah secara mandiri, di tengah kondisi sebanyak 2 juta warga Kota Makassar yang menghasilkan 1.200-1.300 ton sampah per hari. Aras pengelolaan sampah direspon melalui kekuatan aktor.

“Pemberdayaan komunitas bertujuan membentuk sikap dan perilaku individu serta masyarakat yang mandiri. Kata kunci perubahan perilaku tersebut ditentukan oleh kekuatan aktor,” ungkap Syamsuddin Simmau. Bagi Sosiolog Maupa ini, penguatan soliditas warga dalam setiap bentukan komunitas yang sevisi dan menjadi komunitas yang berdaya.

KLIK INI:  Data Bank Sampah di Kabupaten Polewali Mandar

Tahun 2013, Syamsuddin Simmau telah melakukan riset di TPAS Antang.  Upaya pemetaan komunitas pemulung, dihimpun dengan judul ‘PERUBAHAN SOSIAL PADA KOMUNITAS PEMULUNG DI TPAS ANTANG TAMANGAPA KOTA MAKASSAR’.

Sebagai peneliti, Syamsuddin mendapati, pada awalnya kehidupan masyarakat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Tamangapa Kota Makassar hidup apa adanya tanpa fasilitas.

Namun, setelah adanya fasilitas air bersih, kesehatan, sarana ibadah dan tempat belajar, kehidupan masyarakat di TPAS Tamangapa ikut berubah.  Karena itu, bagi Syamsuddin, penting memandang kekuatan aktor dalam komunitas untuk terjadinya perubahan sosial.

Terlepas dari berbagai pretensi, “betulkah kita masih perlu berkomunitas ?” Dibalik pertanyaan itu pula, Syamsuddin mengapresiasi komunitas Manggala Tanpa Sekat membuat diskusi pemberdayaan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas di Manggala. Dengan harapan program ini dapat dilakukan ditingkat-rumah tangga dalam mengurai dan memilah sampah dari rumah.

Malam itu tersaji, betapa persoalan sampah yang terlontar ikut membiaskan kata pemberdayaan yang sekilas enak didengar apalagi diucapkan. Namun terasa berat dalam praktik dan implementasi di lapangan.

Pasalnya menyangkut manusia sebagai basis kerelaan secara sadar untuk bergerak. Sematan moral ikut menggugah kesadaran insani. Muatan moralitas dalam menyoal sampah menyangkut juga tanggung jawab manusia terhadap lingkungannya.

KLIK INI:  Polusi Bahan Bakar Fosil Turunkan Tingkat Kesuburan Manusia?
Empat praktik perberdayaan

Beberapa praktik pemberdayaan yang coba di dorong dalam basis komunitas adalah:

Pertama, melakukan edukasi pada masyarakat. Disadari program ini butuh proses panjang karena menyangkut proses membangun kesadaran masyarakat dalam menata kelola sampah dari mulai lingkungan masyarakat terkecil.

Oleh karena itu, harus ada peran tokoh masyarakat, ketua RT, kalangan pendidik dan sukarelawan yang sadar dalam wilayah terkecil di tingkat RT.

Kedua, menyelesaikan masalah, bukan memindahkan masalah. Selama ini aktivitas penanganan sampah lebih berkutat pada memindahkan masalah urusan sampah seperti mengangkut sampah dari rumah-rumah warga ketempat pembuangan sampah.  Sehingga berakibat di tempat pembuangan sampah menciptakan gunung sampah yang dapat menimbulkan masalah secara sistemik. Oleh karena itu, harus upaya memotong rantai masalah sampah selesai di tingkat lingkungan masyarakat dan tidak sampai di pindahkan ke tempat yang lain.

KLIK INI:  Instruksi Menteri LHK Dibacakan pada Upacara Hari Bhakti Rimbawan ke-36, Begini Isinya!

Ketiga, berdayakan ekonomi kreatif. Sampai saat ini telah banyak terobosan dan upaya kreatif dalam memilah sampah dari rumah tangga yang bernilai ekonomi. Beberapa kelompok masyarakat yang bergerak telah mendorong ekonomi kreatif, ekonomi inovasi, yang berbasis sampah.

Keempat, penanganan sampah plastik. Kawasan zero plastik sudah banyak di dengungkan di mana-mana namun belum ada sebuah fenomena benar-benar sebuah kawasan zero plastic.

Bentuk kebijakan yang holistik dan integratif mendesak diupayakan, hal itu sangat dimungkinkan di tengah desain ekosistem tata kelola sampah plastik yang masih parsial.

Upaya memilah sampah yang mempunyai nilai ekonomi, jika di tata dengan benar, sambil memperkuat basis komunitas dalam pemilahan maupun pengolahannya, akan menuai hasil yang diharapkan. Dengan tetap memegang prinsip zero waste sebagai spirit komunitas dalam bergerak.

KLIK INI:  Pengelolaan Sampah di ASEAN Berkiblat ke Surabaya?