Deforestasi Akut, Hutan Indonesia Seperti Kehilangan Separuh Jiwa
Klikhijau.com – Deforestasi atau hilangnya hutan alam karena penebangan untuk alih fungsi lahan maupun akibat kebakaran hutan seolah satu fenomena yang tak terhindarkan. Dari tahun ke tahun, Indonesia...
Klikhijau.com – Deforestasi atau hilangnya hutan alam karena penebangan untuk alih fungsi lahan maupun akibat kebakaran hutan seolah satu fenomena yang tak terhindarkan. Dari tahun ke tahun, Indonesia terus mengalami defisit hutan alam, sebagian besar diantaranya karena kepentingan investasi.
Padahal, Indonesia memiliki hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Indonesia dan Malaysia bahkan memiliki 53 % dari lahan gambut tropis di dunia. Seperti diketahui, hutan dan lahan gambut sangatlah penting karena menyimpan karbon dalam jumlah besar, yang berperan dalam memitigasi krisis iklim.
Hutan juga diperlukan oleh wilayah perkotaan dalam hal pencegahan banjir, mengurangi polusi udara dan persediaan air bersih. Sayangnya, ancaman deforestasi terus menghantui setiap saat dan kita kehilangan paru-paru dunia secara signifikan dari waktu waktu.
Dampaknya tidak saja pada aspek ekologi dan ekonomi tetapi juga pada aspek kesehatan manusia.
[irp]
“Deforestasi bahkan meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonosis (hewan ke manusia), dan dapat berdampak pada pandemi berikutnya,” kata Arief Wijaya, Manajer Tata Kelola Lahan Berkelanjutan WRI Indonesia pada diskusi daring, Rabu 6 Mei 2020.
Studi dari School of Earth, Energy & Enviromental Sciences, Stanford University tersebut, kata Arief, menunjukkan bahwa risiko penyebaran zoonosis meningkat di wilayah hutan tropis yang mengalami perubahan tata guna lahan dan wilayah di mana keanekaragaman satwa liar tinggi.
Pada aspek yang lain, lanjut Arief, Indonesia adalah Negara agraris yang ekonominya sangat mengandalkan potensi sumber daya alam, termasuk hutan. Sehingga, apabila perencanaan pembangunan belum berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam, keseimbangan ekosistem, daya dukung dan tampung lingkungan maka akan berdampak negatif terhadap kehilangan tutupan lahan di Indonesia.
[irp]