<em>Circular Economy</em> dan Peran Bank Sampah Kita?

Klikhijau.com – Beban sampah di Indonesia memang harus diselesaikan dengan program inovatif. Pendekatan circular economy agaknya menarik diterapkan sebagai sebuah model pengelolaan sampah. Sejauh i...

<em>Circular Economy</em> dan Peran Bank Sampah Kita?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com – Beban sampah di Indonesia memang harus diselesaikan dengan program inovatif. Pendekatan circular economy agaknya menarik diterapkan sebagai sebuah model pengelolaan sampah.

Sejauh ini, pendekatan pengelolaan sampah dengan sistem linear economy yakni sistem kumpul, angkut, buang. Model ini menempatkan sampah sebagai subjek yang tidak berguna.

Padahal, beban persampahan nasional semakin mengkhawatirkan. Pola konsumsi masyarakat, jumlah penduduk yang bertambah, hingga industrialisasi menjadi pemicunya.

Dengan model circular economy, maka tidak saja kita dapat mengurangi beban sampah. Tetapi juga mendapatkan nilai tambah secara ekonomi dari pengelolaan sampah. Dengan demikian, akan ada pergeseran pola pikir masyarakat yang pelan-pelan melihat sampah sebagai sebuah potensi.

Keberadaan bank sampah yang berkembang di beberapa kota di Indonesia seperti Makassar adalah modal besar bagi penerapan circular economy. Semakin banyak bank sampah, semakin memungkinkan bagi masyarakat untuk mendalami proses pengolahan sampah secara lebih kreatif dan inovatif.

[irp posts="7916" name="Merdeka dari Kepungan Sampah"]

Jadi, warga tidak saja mendapatkan uang hasil penjualan di bank sampah nya, tetapi juga dapat menciptakan produk-produk tertentu dari sampah.

Sebagai contoh sampah rumah tangga bisa diolah menjadi kompos, 20 % sisanya bahkan berpotensi untuk diolah menjadi bahan aspal. Sisanya bisa menjadi sumber energi.

Dalam hal ini, sinergi antara lembaga terkait bisa dilakukan untuk mewujudkan daur ulang sampah. Misalnya dengan kerjasama dengan PLN yang menerapkan kebijakan “bayar listrik dengan sampah”.

Di Konawe Sulawesi Tenggara misalnya ada seorang bernama dokter Mawar yang mengedukasi masyarakat dengan menerima sampah sebagai media pembayaran di klinik nya. Model-model seperti ini sekali lagi membutuhkan kreativitas dan sinergi berkelanjutan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2