Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rezeki

oleh -2,635 kali dilihat
Cekakak sungai, Burung yang Dijuluki Si Pembawa Rejeki
Cekakak Sungai - Foto/Taufiq Ismail

Klikhijau.com – Cekakak sungai adalah burung yang telah lama saya kenal. Sedari kecil, saya sering menjumpainya saat ikut bersama Ayah ke kebun. Warnanya yang terang membuat saya mudah mengenalinya. Punggung dan sayapnya berwarna biru. Dadanya berwarna putih bersih. Saya mengenalnya sebagai jekki. Jekki adalah bahasa lokal, Bugis.

Burung dari kelompok raja udang ini jarang menjadi sasaran penembak liar. Mengapa? Karena menurut orang Bugis, burung ini pembawa rezeki. Saat mendengar suara nyaringnya “jekki.. jekki..” Mereka lalu menitipkan pesan ke burung. “Jekkikan ka dalle”, yang berarti: bawakan saya rejeki.

Pak tani dan burung jekki menjadi sahabat. Suara si cekakak menjadi penghibur mereka saat mengolah tanah. Bahkan Ayah saya pernah bercerita kalau ia pernah menjumpai sarangnya. Ia tak mengganggunya. Membiarkannya.

Sang cekakak sungai pun membantu pak tani. Memangsa serangga yang berkeliaran di kebun sahabatnya. Memburu belalang, capung, ulat, hingga tikus kecil. Kemampuan cekakak ini tak disadari pak tani. Kemampuan memburunya yang turut menjaga hasil panen pak tani tetap melimpah.

KLIK INI:  Oyong, Si Bulat Panjang yang Enak dan 2 Kandungan Ajaibnya
Jadi target buruan untuk belajar

Setelah memutuskan untuk mulai mengamati burung, saya lalu menjadikan si pemilik nama latin: Halcyon chloris, sebagai target. Target sasaran kamera untuk belajar mengamati burung.

Saya memiliki beberapa spot untuk mengamatinya. Begitu pun saat saya pulang kampung, di kota kelahiran Habibie. Saya juga berkali-kali menjumpai di beberapa tempat yang berbeda di sana. Setidaknya ada tiga lokasi, tempat saya sering berjumpa.

Saya juga sering menjumpai si doi berkeliaran di sekitar perumahan di Makassar. Bahkan tak jauh dari rumah. Terkadang bersuara kala malam. Menjadikan saya begitu mengenal suaranya yang cukup ribut.

Terakhir saya menjumpai jenis yang sama tak jauh dari kantor, sekitar Bantimurung. Lokasinya sangat terbuka. Berada di tepi jalan poros. Saya pertama kali  menjumpainya saat pulang kantor. Bertengger di pohon tinggi yang lapuk. Pohon singgahnya mengering membuatnya mudah terlihat. Karenanya setiap kali melintas saya memerhatikannya. Apakah si doi lagi bertengger hari ini di sana?

Saya menjumpainya beberapa kali terutama pagi hari. Melihatnya asyik nongkrong di ranting langganan. Hingga akhirnya suatu pagi saya memutuskan untuk memburunya.

KLIK INI:  Lebih Dekat dengan Kayu Kuku, Spesies Khas Sulawesi yang Terancam Punah

Memburunya dengan kamera. Tak perlu kamera yang bagus. Cukup kamera yang kita punya saja. Dengan kamera power shot dari bran berlabel merah, saya bergegas menghampirinya. Dengan tambahan monopod saya jadi semangat bisa peroleh gambar si doi.

Betul saja si doi masih tetap asyik memamerkan tubuh sintalnya. Saya memarkir kendaraan cukup jauh dan terlindung dari si doi. Saya pun mengendap-endap mencari tempat persembunyian. Mencari tempat yang cukup dekat dan tak terlihat oleh si doi. Tentunya juga tempat yang memudahkan memantaunya tanpa terhalang.

Saya mendapati tempat yang cukup cocok. Tempat yang juga terlindung dari matahari. Tepatnya di depan sebuah warung yang masih tutup. Lantai dasarnya datar dengan plasteran kasar, membuat saya mudah mendirikan monopod. Sekejap kilat saya memasang kamera dan mulai memanjangkan lensa saktinya.

Membuat setingan terbaik untuk kamera kecil pujaan. Beberapa pengendara memerhatikan tingkah saya tak biasa. Beberapa orang yang mengenal membunyikan klakson tanda sapaan. Maklum huntingnya di pinggir jalan poros Maros-Bone.

KLIK INI:  Jangan Sepelekan Perannya, Ini yang Akan Terjadi Bila Semut Punah

Si doi juga tetap anteng di ranting favoritnya meski sesekali suara truk yang melintas cukup berisik. Sepertinya si doi sudah terbiasa. Hingga beberapa jepretan berhasil saya peroleh. Meski tak semuanya sesuai dengan pose yang saya inginkan.

Pegel juga memotretnya. Tapi rasanya masih suka mengamatinya. Saya pun mencari posisi yang santai. Mencari bangku biar bisa nongkrong menikmati lekuk si doi. Saya akhir mendapati bongkahan batu yang cukup besar sebagai alas duduk.

Si doi sepertinya sedang bersantai setelah beberapa santapan sarapan. Sesekali ia bersuara nyaring. Ia kemudian terbang dan tak lama kemudian ia kembali. Kembali dengan se-ekor capung di paruhnya. Memburu capung besar dari genus Orthetrum. Lihai juga dia. Dalam sekejam mata ia melahapnya. Ternyata si doi juga pemburu ulung.

Tak lama kemudian seekor lagi bertengger di ranting yang lain. Wah tambah ramai nih. Saya belum bisa memastikan apakah keduanya adalah sepasang. Saya belum mampu membedakan antara jantan dan betina. Mereka lalu bernyanyi bergantian.

Tak lama kemudian salah satu dari mereka terbang. Seekornya lagi mengikutinya. Saya masih menunggunya. Berharap ia kembali dengan hasil buruan. Hingga beberapa menit kemudian tak ada tanda-tanda si doi kembali. Saya pun bersiap kembali beraktivitas dengan semangat dan riang.

Seru juga ternyata menikmati lekuk dan nyanyian si doi. Moga si cekakak sungai tetap menjadi sahabat pak tani. Juga tetap bisa bermain sesuka hati mereka di wilayah terbuka tanpa ancaman.

KLIK INI:  Lebih Dua Dekade Tak Terlihat, Empat Ekor Jalak Putih Kembali ke TWA Angke