Menularkan Spirit Hidup Hijau Versi penuh
Literasi Lingkungan

Bertapa Sejenak di Rimba Pattunuang, Berkenalan dengan Biodiversitasnya

Oleh Taufiq Ismail 06 Oct 2026 07:37 8 menit baca

Klikhijau.com - Bersama tim penulis dan mahasiswa magang, Klikhijau menyelenggarakan Ekspedisi Flora Fauna dan Internal Camp. Ya.. begitulah tajuk kegiatan ekspedisi dengan anggota tim sebanyak sebelas orang. Sebelas orang ini terdiri dari staf Klikhijau, mahasiswa magang dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dan Universitas Negeri Makassar.

Sabtu, 3 Oktober 2026, siang itu mereka tiba di Pattunuang. Seorang petugas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menyambutnya dengan tangan terbuka. Berbahagia karena akhirnya jadi juga agenda bersama ini di wilayah kerjanya.

"Selamat datang di kawasan wisata Pattunuang Bang Anis dan tim," sambut Taufiq Ismail, petugas taman nasional sekaligus tim penulis Klikhijau.com. Tak lupa berjabat tangan persaudaraan menyambut rombongan.

Tim kemudian melepas lelah, sembari menanti rombongan lain yang berkendara roda dua menuju Pattunuang. Tak lama kemudian gelas-gelas stirofoam menyeruakkan aroma kelezatan. Menyantap pop mie kesukaan mereka siang itu.

Rombongan lain pun tiba. Kini mereka makin bersuka ria. Bersyukur atas kehadiran tim dengan selamat tanpa kekurangan apapun.

Akhirnya, menjelang Ashar rombongan ini berbondong-bondong menapaki paping block kawasan wisata menuju area kemah. 

Tak butuh waktu lama, jarak hampir dua kilometer itu mereka lewati dengan hati ceria. Bercakap dan bersenda gurau sepanjang jalan.

Tanpa komando, baik lelaki maupun kaum hawa saling berbagi tugas mendirikan tenda. Empat tenda kemudian berdiri takzim. Tak lupa menggantung spanduk di jejeran batu gamping 

Anis Kurniawan, Editor in Chief Klikhijau, mengambil alih komando. Meminta semua tim berkumpul.

"Alhamdulillah, kita sudah di tahap memulai ekspedisi. Saya minta kepada teman-teman agar sore ini melakukan eksplorasi fauna dan flora di sekitar area kemah," perintah Anis.

Briefing itu, meski singkat namun pembagian tugasnya detail. Setiap orang diminta untuk menargetkan minimal satu satwa atau pun tetumbuhan untuk jadi pilihannya. Pilihan yang kelak akan mereka kuliti sebagai bahan artikel. Artikel populer sebagai akhir dari tugas ekspedisi di alam liar itu.

"Pada akhirnya, setiap peserta saya minta untuk menuliskan satu artikel dari penjelajahan alam ini," tambahnya.

Taufiq kemudian memimpin tim ekspedisi sore itu. Mementori peserta untuk mengeksplorasi tumbuhan dan satwa yang bergeliat di sekitar Bisseang Labboro, camping area.

Mengajak anak-anak muda pecinta literasi menyusuri sungai. Menunjukkan kehidupan yang tersembunyi di balik sungai Pattunuang yang tanpa henti mendetakkan nadi kehidupannya.

Aren dan pandan hutan menjadi awal petualangan. Dua mahasiswa Sosiologi, Universitas Negeri Makassar nampak terpukau dengan kedua flora otentik itu.

Capung, lebah, ikan air tawar, kupu-kupu, soa-soa, kunang-kunang hingga tarsius berhasil mereka lihat di alam liar. Memberi kejutan kepada setiap peserta yang antusias menjelajah.

Mahasiwa Hubungan Internasional, UIN Alauddin Makassar jatuh hati pada kunang-kunang dan tarsius.

"Wah.. ternyata tarsius hanya sekecil itu ya. Hanya sekepalan tangan orang dewasa," pungkas Andi Ahmad Gumilar, mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung.

Andi senang tak terkira, karena selama ini hanya mendengar suara tarsius kala ikut monitoring keberadaan satwa primata terkecil di dunia ini. Monitoring bersama tim kerja Sanctuary Tarsius Makassar beberapa waktu lalu.

Begitu pun, Ulfiah dan Arman, mahasiswa lain yang ikut ekspediasi begitu senang melihat tingkah soa-soa layar sulawesi lari terbirit-birit ketika tim ekspedisi melintas di habitatnya.

"Wah.. sensitif sekali mereka ya. Padahal kami penasaran dengan parasnya," ungkap Arman Bassara, Mahasiswa Magister Universitas Bosowa, Makassar. Ia juga berperan sebagai tim penulis dan editor Klikhijau.

Hingga menjelang Magrib, mereka akhirnya tiba di hulu sungai. Taufiq kemudian meminta tim untuk menyudahi ekspedisinya.

"Saya kira cukup penjelajahan kita. Ini sudah hampir adzan Magrib. Ayo kita bergegas kembali ke camp," ajaknya.

Begitu tiba di tenda masing-masing mereka pun tidak tinggal diam. Hanya sejenak melepas lelah, kemudian bergegas menyambut adzan. Mencuci badan dan segera mengambil air wudhu. 

Selayaknya berkemah, aktivitas mereka tak jauh-jauh dari sungai. Mandi dan membasahi area tertentu sebelum salat, mereka lakukan di aliran sungai.

Semua nampaknya menikmati. Tak seorang pun menatap layar ponsel dalam waktu lama. Mereka seolah terisolir dari teknologi. Tak ada signal di sana. Membuat suasana keakraban begitu hangat.

Mereka pun salat berjamaah, beralaskan tikar di antara tenda-tenda beragam warna. Suasana yang syahdu di tengah rimba.

Tak lama kemudian, seorang dewasa diiringi tiga anak-anak bersuka ria mengantarkan makan malam untuk tim ekspedisi. Malam itu kami menyantap hidangan kami dengan penuh khidmat. Membayangkan bagaimana prosesnya hingga sebungkus nasi di depan mereka hadir. 

Berapa banyak orang yang terlibat? Tangan-tangan yang mengolah padi hingga menjadi beras. Ikan bolu yang dipelihara hingga panen. Bahkan kami membayangkan bagaimana ikan tersebut sampai di pasar hingga ibu yang memasak makanan kami memilihnya.

Rasanya kami terhubung. Rasanya kita tak bisa hidup sendiri. Rasanya setiap orang butuh bantuan orang lain. Rasanya kita tak bisa egois menjalani kehidupan ini.

Karena itu suapan demi suapan begitu nikmat tak terkira. Memaknai setiap butiran nasi dan setiap cubitan daging ikan. Semua begitu terasa. Ada perjuangan di setiap butir dan cubitan itu.

"Yang kita lakukan saat ini adalah Mindful Eating," sergap Anis.

Sembari menikmati kudapan ubi ungu dan kopi, Umy Hafid, Mahasiswa Prodi Gender dan Pembangunan, Pasca Sarjana Univeritas Hasanuddin, kemudian mengambil alih mic malam itu. Membuka ruang diskusi. Meminta peserta ekspedisi membuat lingkaran di antara tenda-tenda.

"Malam ini kita akan berdiskusi dengan dua naramsumber kita. Dua penulis senior Klikhijau akan berbagi pengalaman mereka," buka Umy dengan sumringah. Berharap mahasiswa magang bisa memetik banyak ilmu dari Irhyl Makkatutu dan Taufiq Ismail. Dua penulis produktif dengan genre berbeda perihal lingkungan.

Umy kemudian menyerahkan mic kepada Arman, untuk menjadi pemandu jalannya diskusi literasi malam itu.

Taufiq terlebih dahulu bercerita tentang kisah perjalanan menulisnya. Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung itu ternyata mulai menyukai menulis tatkala masih bertugas di Taman Nasional Bunaken, Manado.

"Saya pertama kali mulai menulis pada tahun 2011, setahun sebelum saya pulang kampung ke taman nasional ini," pungkasnya.

Ia pun melanjutkan kisahnya. Bagaimana Taufiq pada akhirnya jatuh hati pada kupu-kupu. Mengantarkannya menyelesaikan magister di Unhas dengan tema penelitian serangga bersayap kemayu itu.

Terakhir, ia berkisah tekniknya menulis di Klikhijau.com selama ini.

Arman mengambil alih pembicaraan, mereview sejenak kisah Taufiq. Lalu sejurus kemudian menyerahkan mic kepada Irhyl, penulis puisi kawakan bertema lingkungan yang selalu syahdu ketika menikmatinya.

Irhyl mengisahkan perjuangannya selama ini bersama Anis. Bagaimana juga ia begitu mengagumi kepiawaan menulis direktur Klikhijau tersebut.

"Saya begitu menyenangi membaca buku kumpulan cerpan Bung Anis, 'Lelaki Kunang-kunang'. Bacaan yang begitu menginspirasi bagi saya," pungkas Irhyl.

Alumni Bahasa dan Sastra Universitas Muhamamadiah Makassar itu kemudian bercerita bagaimana teknis ia menulis. Rentetan bacaannya selama ini memengaruhi karyanya. 

"Saya banyak membaca buku-buku sastra, karena itu begitu kental pengaruhi gaya tulisan saya," tambahnya.

Menurutnya, setelah menulis, pria pencetus Tanda Baca, Kindang ini membutuhkan waktu untuk mendiamkan sejenak tulisannya. Memberi ruang bagi dirinya untuk menikmati aktivitas lain. 

Jika waktunya sudah tiba, Irhyl dengan lincah akan melakukan tahapan kedua: mengedit. Ia bisa saja membongkar ulang tulisannya. Bisa jadi, kalimat yang mulanya berada di awal, jika tidak cocok bisa saja diletakkan di tengah atau bahkan di bagian akhir. 

Irhyl memang tak bisa dipandang sebelah mata. Karyanya begitu melimpah. Bahkan genrenya pun beragam. Mulai dari esai, cerpen, hingga puisi.

Tak hanya itu, beberapa kumpulan cerpen dan puisinya pun ia rajut menjadi beberapa buku komersil.

Lelaki Pencetus Ikatan Pemerhati Seni dan Sastra ini pun kerap kali menulis tentang perjumpaannya dengan ragam tumbuhan dan satwa. Perjumpaan itu kemudian ia tulis dengan begitu apiknya. Membuat siapa pun yang membacanya hendak mencari objek tulisan itu.

Tulisannya bagaikan magnet. Diksinya pun tak pernah membosankan. Rasanya membaca tulisan Irhyl akan membuat kita haus akan asupannya. Laksana pengembara yang merindukan tetesan air di padang pasir.

Wah.. rasanya begitu cepat Irhyl berkisah. Rasanya sederhana sekali ia merangkai karya. Seperti kebanyakan penulis.

Setelah keduanya berkisah, Arman menyilahkan peserta bertanya. Namun, sepertinya Arman terkesan sedikit memaksa. Membuat setiap anggota tim ekspedisi melontarkan tanya atau sekedar berbagi pengalaman. Pengalaman setelah menginjakkan kaki di Pattunuang.

Anis Kurniawan pun juga mengangkat suara. Menimpali Taufiq yang mengisahkan perjumpaan tim dengan kunang-kunang. Bagi Anis, kunang-kunang adalah makhluk kecil, mainannya semasa bocil (bocah cilik). Menurutnya, begitu mudahnya ia menjumpainya di tahun 90-an. Berbeda dengan saat ini, menjadi barang langka. 

"Karena itu, buruntunglah kalian masih bisa melihat kunang-kunang beterbangan di hutan ini," tambahnya.

Peserta ekspedisi kemudian silih berganti menyuarakan unek-uneknya. Bertanya tentang teknik penulisan, motivasi hingga objek yang hendak mereka ulas.

Tak terasa malam telah larut. Keasyikan berdialog literasi hingga jam tangan telah menunjukkan pukul 23:00 Wita. Moderator kemudian menutup diskusi. Menyampaikan terima kasih kepada pemantik dan peserta diskusi. 

"Rasanya tak ada habisnya membicarakan jurnalistik ini. Selalu ada hal baru yang nenarik untuk menjadi bahasan bersama," tutup Arman.

Mic pun kembali ke Umy, mengingatkan agenda esok pagi. Mengabarkan agenda mengunjungi mata air yang menjadi sumber aliran sungai di sisi mereka.

Peserta pun menantikan kunjungan itu. Meski diskusi telah usai, namun mereka tak mau kebersamaan itu cepat berlalu. Mereka pun mengisinya dengan bercenkrama dengan kartu gaple di tangan. Berdiskusi santai dengan balutan permainan lawas khas pedesaan.

Semoga ekspedisi flora fauna berbalut kemah bersama ini memberi kesan mendalam bagi mahaisiwa magang dan staf Klikhijau.com. Belajar dari alam dan tumbuh dalam kebersamaan menjaga alam dan lingkungan sekitar.

Salam literasi dan mari menularkan spirit hijau demi bumi hijau kita.

Topik terkait
pattunuang Klikhijau.com tn Bantimurung Bulusaraung fauna flora resort pattunuang