Benarkah Industri Hotel di Indonesia telah Ramah Lingkungan?

oleh -653 kali dilihat
Benarkah Industri Hotel di Indonesia telah Ramah Lingkungan
Strand Residence hotel The St. Regis Bali Resort/Foto-marriott.com

Klikhijau.com – Pernakah Anda menginap di suatu hotel, tetapi perasaan Anda tak karuan lantaran suasananya yang tak menyenangkan? Tidak jarang kita menjumpai ada hotel tanpa halaman cukup. Tanpa pepohonan bahkan tanpa tempat sampah yang memadai.

Memang, tidak banyak pengelola hotel yang memperhatikan aspek ekologis. Padahal, industri perhotelan termasuk yang berkontribusi terhadap masalah lingkungan. Hasil studi PBB menunjukkan industri hotel berkontribusi lebih dari 5 persen terhadap emisi gas CO2 secara global.

Bayangkan saja, rata-rata penggunaan air per tamu per malam sekitar 170-440 liter (pada hotel berbintang lima). Selain itu, limbah padat yang dihasilkan mencapai rata-rata 1 kilogram per tamu per malam.

Pada sisi organisasi, aktivitas seluruh departemen yang ada pada hotel juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, terutama housekeeping dan kitchen, antara lain pencemaran air, degradasi kualitas ekosistem, limbah packaging, pencemaran sanitari dan sebagainya.

KLIK INI: Dari Pantai Kupang, Menyelisik Indonesia Darurat Sampah

Menyadari hal tersebut, berkembanglah sebuah penerapan operasional hotel berwawasan ramah lingkungan yang disebut eco-friendly hotel.

Secara konsep, hotel ramah lingkungan mensinergikan operasionalnya dengan upaya-upaya pengurangan dampak lingkungan antara lain sistem penyusunan toilet, sistem efisiensi energi dan air, program daur ulang dan produknya, pemanfaatan sistem energi terbarukan, sistem pengairan, pemilihan green suppliersdan produk organik, manajemen limbah dan program pemberdayaan karyawan agar ikut menjaga lingkungan.

Oya, seberapa banyak hotel di Indonesia yang memperhatikan aspek ekoligis ketimbang yang melulu memikirkan aspek profit? Agaknya masih minim. Padahal, secara manfaat, hotel yang telah menerapkan ramah lingkungan akan memperoleh advantages jangka pendek yaitu penghematan biaya. Di samping memperoleh daya tarik tinggi bagi masyarakat.

Menurut anggota World Committee on Tourism Ethic I Gede Ardhika, dari 265 hotel yang terdapat di Kota Bandung, misalnya, diperkirakan kurang dari 10% telah mendapatkan sertifikasi sebagai hotel ramah lingkungan. Angka 10% menunjukkan bahwa jumlah hotel yang sadar lingkungan masih sangat sedikit sehingga perlu diperkuat dengan faktor pendorong dari pemerintah (pembatasan penggunaan sumber daya energi & air) dan konsumen, misalnya.

KLIK INI: Asyik, Sampah Bisa Ditukar Emas di Pegadaian

WWF Indonesia seperti dilansir Detik.com, pernah memberi penjelasan mengenai kriteria hotel ramah lingkungan. Menurut WWF, Hotel ramah lingkungan adalah hotel yang menjaga lingkungan di sekitarnya dengan baik. Hotel tersebut memanfaatkan sumber daya listrik dan air, serta pemanfaatan lahan seefisien mungkin.

Selain itu, hotel sebaiknya tidak menguasai lahan dan mengeksploitasinya besar-besaran. Mereka juga tidak mengubah kontur alam yang sudah dan mematikannya demi membuatnya jadi eksklusif.

Kriteria hotel ramah lingkungan selanjutnya adalah melibatkan masyarakat. Hotel tersebut bisa menjadi lapangan pekerjaan dan menjadi mata pencaharian masyarakat setempat.

Dan yang paling penting adalah konsumsi hotel tidak melebihi kapasitas sumber daya di wilayah setempatnya. Contohnya konsumsi air tidak melebihi dari kemampuan kawasan di sana.

KLIK INI: Kebun Binatang Surabaya Berhasil Tetaskan 74 Telur Komodo

Pasalnya, jika sumber daya yang ada dipakai secara besar-besaran dan tidak terkontrol maka kawasan tersebut akan hancur. Nah, hotel ramah lingkungan harus bisa memanfaatkan seefisien dan sehemat mungkin sumber daya di sana.

Nah, perihal hotel ramah lingkungan ini sejatinya harus jadi perhatian pemerintah. Agar pelbagai pertanyaan liat tak mengganggu pikiran kita, semisal berapa banyak energi listrik yang dipakai? Atau kemana limbah hotel itu dibuang? (kh)

Sumber: berbagai sumber