Belajar Kisah Heroik Perempuan dari Pegunungan Kendeng
Klikhijau.com - Bulan November 2018, saya mengikuti kegiatan Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) angkatan 2 Maarif Institute di Bogor Jawa Barat. Salah satu temanya adalah tentang kebudayaan yakn...
Klikhijau.com - Bulan November 2018, saya mengikuti kegiatan Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) angkatan 2 Maarif Institute di Bogor Jawa Barat. Salah satu temanya adalah tentang kebudayaan yakni tentang strategi budaya pegunungan Kendeng. Narasumber dalam tema tersebut adalah Dr. Phil. Dewi Candraningrum.
Pegunungan karst Kendeng adalah kekayaan alam batu gamping yang membentang dari pegunungan Kendeng utara. Oleh masyarakat sekitar, pegunungan Kendeng diyakini meyimpan sumber mata air berusia ribuan tahun atau biasa disebut dengan cekungan air tanah yang mampu mengaliri air ke sawah-sawah di sekitaran Kendeng, bahkan menjadi sandaran hidup warga sekitar.
Adalah warga Sedulur Sikep yang menganut kepercayaan Samin yang menolak dengan tegas pembangunan pabrik semen di Kendeng. Hal itu karena Sedulur Sikep adalah warga asli yang tinggal di kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi antara Blora Jawa Tengah dan Bojonegoro Jawa Timur.
[irp posts="4055" name="Enno, Pilot Perempuan Bidang Pemetaan KLHK dan Kisahnya yang Maskulin"]
Hal yang unik dari perjuangan warga Sedulur Sikep adalah memperjuangkan tanah dan air tidak dilakukan oleh kelompok laki-laki atau bapak-bapak, melainkan oleh ibu-ibu. Pemberitaan tentang Kartini Pegunungan Kendeng serentak telah diberitakan pada tanggal 12 April 2016 di berbagai pemberitaan media massa di Indonesia dalam sebuah aksinya dengan mengecor kaki menggunakan semen oleh sembilan perempuan Kendeng di depan istana merdeka Jakarta.
Pada konteks ini, Dewi melihat bahwa bentuk perjuangan perempuan Kendeng adalah strategi perjuangan dengan menggunakan pendekatan budaya. Perjuangan dengan menggunakan pendekatan budaya bukanlah perjuangan dengan selemah-lemahnya perjuangan, melainkan karena budaya menjadi satu-satunya yang melekat dalam urat nadi kehidupan warga Sedulur Sikep. Dalam artian, warga Sedulur Sikep percaya bahwa bumi adalah ibu, bahwa air adalah air susu ibu, dan bahwa tanah adalah ladang kehidupan bercocok tanam.
-
Ibu-ibu mendirikan tenda di sekitar pabrik semen
-
Ibu-ibu menggunakan jarik dan lesung
-
Aksi demo dengan cara meruwat president dan gubernur
Penulis: Masthuriyah Sa’dan, Alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusian Maarif Institut