BBKSDA Sulsel Dorong Kelestarian Rusa Berbasis Masyarakat

oleh -98 kali dilihat
BBKSDA Sulsel Dorong Kelestarian Rusa Berbasis Masyarakat
Training workshop penangkaran rusa rakyat berkelanjutan.

Klikhijau.com – Bila menyebut rusa, terbayanglah tanduk dan dagingnya yang konon empuk nan renyah. Tetapi, pernahkah terpikirkan bahwa populasi rusa di Indonesia mulai terancam. Diantaranya karena perburuan liar, boleh jadi karena daya tarik akan tanduk dan dagingnya itu.

Rusa, alias sambar atau menjangan memang diburu banyak orang. Habitatnya terus berkurang karena tidak didukung oleh upaya pelestarian. Ini soal minset dan cara pandang masyarakat yang belum melihat sebagai sebuah bagian penting dari ekosistem yang harus dijaga keberlanjutannya.

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel kemudian berinisiatif mendorong kelestarian rusa berbasis masyarakat. Melalui sebuah kegiatan bertajuk “Training Workshop Penangkaran Rusa Rakyat Berkelanjutan”, BBKSDA berharap ada partisipasi masyarakat dalam mendorong penangkaran hewan ini.

Penangkaran ini adalah satu cara yang bisa dilakukan. Pelaku utamanya adalah masyarakat. Dengan demikian, dampak ekologi dan ekonominya bisa dinikmati bersama.

Selama dua hari (20-21 Agustus 2019) di Makassar, workshop mengenai rusa dan bagaimana penangkaran bisa didorong berbasis masyarakat. Beberapa penangkar dan stakeholder terkait hadir dalam kegiatan ini. Mereka akan berkolaborasi untuk memikirkan proses penangkaran rusa berkelanjutan.

KLIK INI:  Gaung Perayaan HPSN 2020 Dimulai dari Danau Toba

Berbagai aspek dibicarakan antara lain aspek kebijakan, aspek teknis penangkaran, serta teknis tata kelola penangkaran ke depan. Prinsip penangkaran yang dijalankan BBKSDA adalah 3K yakni Kemitraan, Kelestrian dan Kesejahteraan. “Kuncinya adalah partisipasi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberlanjutan rusa,” kata Anis Suratin, Ketua Panitia.

Selain diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber antara lain Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc (Kepala BBKSDA Sulsel), Mariana Takandjandji (Peneliti KLHK), Peggy Awanti Nila (Setditjen KSDAE), Prof. Ismartoyo (Unhas) dan lainnya. Selain diskusi, peserta juga akan melakukan visitasi ke penangkaran rusa di kampus Unhas. Serta perkenalan dan diskusi pengembangan Taman Buru Ko’mara di Kabupaten Takalar.

Kolaborasi masyarakat

Sebagaimana tertuang dalam Permenhut No P.19/Menhut-II/2005, disebutkan bahwa penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap memperhatikan kemurnian jenisnya. “Penangkaran tidak hanya dapat meningkatkan jumlah, tetapi juga memperbaiki kualitas populasinya,” kata Dadang dari Ditjen BKSDA KLHK.

KLIK INI:  Keberagaman Karakteristik Hutan Membuatnya Lebih Tangguh dan Produktif

Demi mendorong penangkaran berbasis masyarakat yang lebih luas, BBKSDA Sulsel juga membuka layanan “penangkaran rusa milenial”. BBKSDA juga menyediaan proses izin penangkaran yang lebih mudah agar kelompok penangkarannya baik individu maupun kelompok bisa lebih muda mengurus administrasinya.

Sekadar diketahui, potensi rusa di dunia internasional sangat tinggi. Tidak hanya daging dan tanduknya tetapi juga kulitnya. Bagian ranggah kerasnya bahkan dijadikan sebagai hiasan dinding (trophy) dan bahan ukiran.

Rusa tergolong Non-endemic spesies terutama untuk wilayah Timur Indonesia Timur. Walau begitu, perburuan yang massif tetap saja mengancam habitanya. Penangkaran berbasis masyarakat adalah satu solusi merawat keberlanjutan. Peran pemerintah tentu diperlukan di dalamnya dengan memberi pendampingan pada masyarakat.

“Tata kelola penangkaran yang baik harus dilakukan, itulah pentingnya workshop ini digelar,” kata Thomas Nifinluri Kepala BBKSDA Sulsel.

KLIK INI:  Perihal Rusa Timor dan 7 Fakta Menarik Tentangnya