Bagaimana Mengatasi Mikroplastik yang Kini Mulai Merasuk ke ASI?

oleh -30 kali dilihat
Ancaman Mikroplastik, Peneliti Temukan pada Jaringan Tubuh dan Organ Manusia
Ilustrasi mikroplastik/foto-Eco News

Klikhijau.com – Pergerakan mikroplastik semakin liar. Ukurannya yang kecil memungkinkannya bergerak bebas dan nyaris tak terdeteksi. Berbagai penelitian telah menemukan, mikroplastik tak hanya ada di lingkungan, tapi telah merasuk ke tubuh manusia.

Mikroplastik yang ada dalam tubuh manusia ditemukan di dalam darah, feses, dan plasenta manusia. Temuan terbaru adalah mikroplastik kini telah terdapat dalam kandungan air susu ibu (ASI).

Hal tersebut termuat dalam jurnal polymer dengan judul penelitian Raman Microspectroscopy Detection and Characterisation of Microplastics in Human Breastmilk”.

Hasil penelitian tersebut  dipublikasi pada bulan Juni 2022 lalu. Peneliti mengungkapkan bahwa beberapa jenis mikroplastik telah ditemukan dalam kandungan ASI.

KLIK INI:  Ruang Hijau Perkotaan Lebih Berdampak bagi Kesehatan Mental Perempuan

Mikroplastik yang merupakan serpihan kecil plastik. Memiliki ukuran yang mini, yakni  tak lebih dari 5 mili meter.

Proses terbentuknya mikroplastik adalah plastik yang diurai oleh alam  atau sekunder. Selain itu, terbentuknya mikroplastik juga bisa terbentuk secara primer atau dari pabrikan.

Meski kecil, mikroplastik  memiliki beragam warna ada merah, kuning, hijau, biru, ungu, oranye, putih, dan hitam.

Bagaimana mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia? Saat ini keberadaannya ada di mana-mana, di dalam air, di udara, bahkan di dalam hujan.

Selain itu, juga telah masuk ke rantai makanan. Jika telah masuk ke rantai makanan, maka akan lebih mudah sampai ke dalam tubuh manusia. Maka tak mengherankan jika ASI pun kini telah “tercemar” mikroplastik.

KLIK INI:  Peneliti Kaget Temukan Mikroplastik Jadikan Laut Dalam Tempat Kumpul
Ancaman di masa mendatang

Temuan mikroplastik dalam tubuh manusia jadi ancaman serius di masa depan untuk keamanan makanan dan kesehatan manusia.

Khusus temuan dalam ASI, para penelitian menguji 34 sampel asi yang didapatkan dari ibu yang telah melewati 7 hari paska melahirkan di Rumah Sakit San Giovanni Calibita Fatebenefratelli di Italia.

Nah, dari seluruh sampel yang diuji, 26 sampel ternyata sudah terkontaminasi mikroplastik. Kandungan mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah polietilen, polivinil klorida, dan polipropilena.

Meski telah ditemkukan dalam ASI, belum ditemukan apa pengaruhnya terhadap kesehatan bayi. Namun demikian, pada penelitian-penelitian lainnya, keberadaan mikroplastik  diduga dapat mempengaruhi sistem endokrin, kognitif, motorik, perilaku, reproduksi pria, dan menyebabkan alergi.

KLIK INI:  Mengatasi Ancaman Mikroplastik di Laut dengan Robot Ikan
Bagaimana mengatasinya

Semakin liarnya pergerakan mikroplastik, memicu banyak peneliti untuk menemukan cara mengatasinya. Sebab jika tak dilakukan maka ancaman “si kecil” ini akan semakin berbahaya.

Apalagi saat ini, dampak kontaminasi mikroplastik pada manusia masih misteri, sehingga menjadi  peringatan yang harus kita waspadai.

Karena itu beberapa penelitian telah berjuang menemukan alat untuk mengatasi si kecil ini, misalnya yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Sichuan di Cina. Mereka telah mengembangkan robot ikan untuk menyerap mikroplastik melalui tubuhnya.

Robot proof-of-concept ini memiliki kecepatan berenang maksimum 2,67 panjang tubuh per detik. Kecepatan itusebanding dengan plankton. Itu mewakili kinerja yang lebih baik dari sebagian besar robot lunak buatan.

Hal yang paling mengejutkan dari robot ini adalah saat berenang ia dapat mengumpulkan mikroplastik di dekatnya.

Robot ini terbuat dari bahan yang berinteraksi dengan logam berat, pewarna, dan antibiotik yang menempel pada mikroplastik.

KLIK INI:  Sampah Plastik, Mutiara Berharga yang Terabaikan

Yuyan Wang rekan penulis studi dan peneliti Polymer Research Institute dari Universitas Sichuan mengatakan, sangat penting untuk mengembangkan robot yang secara akurat mengumpulkan dan mengambil sampel polutan mikroplastik yang merugikan dari lingkungan perairan.

“Sepengetahuan kami, ini adalah contoh pertama dari robot lunak semacam itu,” katanya.

Robot ikan ini  memiliki panjang sekitar setengah inci. Ia bisa ” berenang ” sendiri dengan bantuan cahaya.

Saat berenang, mikroplastik yang ada di sekitarnya akan menempel, sehingga pencemarannya di dalam air akan berkurang.

Hal serupa juga dikembangkan oleh para peneliti di University of Surrey yang kini telah mengembangkan pula robot ikan  yang dapat menarik mikroplastik dari air.

Mikroplastik yang ditarik tersebut kemudian di dalam  rongga dalamnya. Ikan bergerak di air dengan mulut terbuka lebar, mengumpulkan mikroplastik dan menyimpannya.

Menurut para peneliti di balik penemuan baru ini, metode ini lebih efisien daripada metode yang ada untuk menghilangkan mikroplastik. Peneliti utama studi Profesor Nicky Eshtiaghi mengatakan bahwa metode saat ini bisa memakan waktu berhari-hari untuk menghilangkan mikroplastik dari air .

Selain itu, menurut Eshtiaghi dan timnya, mereka telah menciptakan metode yang murah dan berkelanjutan untuk membersihkan mikroplastik dari air.

KLIK INI:  Miris, Kehidupan Cacing Tanah Terancam oleh Mikroplastik

Tim ini juga telah mengembangkan adsorben yang dapat menghilangkan mikroplastik yang 1.000 kali lebih kecil daripada yang dapat dideteksi oleh pabrik pengolahan saat ini. Adsorben berbentuk bubuk dan dapat bekerja jauh lebih cepat daripada metode lainnya.

Sementara itu, Dr. Nasir Mahmood, salah satu pemimpin penelitian, mengatakan bahwa perangkat baru mereka mempertimbangkan kebutuhan untuk mencegah polusi karbon . Dengan kata lain, perangkat tidak meninggalkan lebih banyak kerusakan dengan membersihkan mikroplastik.

“Aditif bubuk kami dapat menghilangkan mikroplastik yang 1.000 kali lebih kecil daripada yang saat ini dapat dideteksi oleh instalasi pengolahan air limbah yang ada,” kata Mahmood. “Ini adalah kemenangan besar bagi lingkungan dan ekonomi sirkular.”

Jika kedua penelitian di atas mengatasi mikroplastik dengan menggunakan robot, maka temuan sebuah penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan musim semi American Chemical Society (ACS) Maret lalu berbeda.

Para ilmuwan melaporkan keberhasilan dalam menggunakan ekstrak dari tanaman pangan umum seperti okra, asam dan fenugreek, untuk menghilangkan mikroplastik tersuspensi selama proses pengolahan air.

Dr. Rajani Srinivasan, penyelidik utama proyek tersebut, menunjukkan bahwa beberapa zat yang saat ini digunakan untuk menghilangkan kontaminan plastik berpotensi membahayakan diri mereka sendiri. Ini termasuk flokulan umum, poliakrilamida, yang dapat terurai menjadi komponen beracun dalam kondisi tertentu. Baca di SINI.

Namun, cara paling efektif dan murah mengatasi mikroplastik adalah berhenti menggunakan plastik, khususnya yang sekali pakai dan tak membuang sampah sembarangan.

KLIK INI:  Memerangi Pemanasan Global Melalui Lahan Basah