Antara Asap Karhutla dan Musim Kemarau, Menakar Lonjakan Polusi Udara di Kota Makassar

Antara Asap Karhutla dan Musim Kemarau, Menakar Lonjakan Polusi Udara di Kota Makassar
Kondisi Langit Makassar, - Foto: Walhi Sulsel
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Kondisi kualitas udara di Kota Makassar dalam beberapa hari terakhir menunjukkan situasi yang kian mengkhawatirkan. Fenomena kemarau panjang yang dipadukan dengan lonjakan debu serta polusi udara yang terus meluas menempatkan Makassar sebagai salah satu kota dengan kualitas udara terburuk ke-6 di Sulawesi Selatan.

Di tengah situasi tersebut, cuaca terik masih menyelimuti wilayah kota dan sekitarnya dengan suhu udara berkisar antara 30 hingga 35 derajat Celsius. Pihak BMKG menyatakan bahwa lonjakan suhu ini sejatinya masih tergolong wajar mengingat wilayah tersebut sedang berada di puncak musim kemarau.

 

Kendati demikian, ancaman nyata justru datang dari polusi partikel tak kasat mata. Data pemantauan Stasiun Meteorologi Klas I Hasanuddin mencatat konsentrasi partikel halus PM2,5 di wilayah Maros sempat menyentuh angka 74,1 mikrogram per meter kubik pada pertengahan Oktober. PM2,5 merupakan campuran partikel padat dan cair mikroskopis yang melayang di udara dan sangat berbahaya jika terhirup hingga masuk ke saluran pernapasan manusia.


Penetrasi Asap Karhutla dan Jejak Dinamika Kualitas Udara

Dinamika perubahan kualitas udara di Makassar dapat ditelusuri melalui beberapa fase. Pada periode 13-14 Oktober, konsentrasi PM2,5 berada pada kategori sangat tidak sehat, ditandai dengan munculnya udara kabur yang memangkas jarak pandang menjadi kurang dari lima kilometer.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan