Anak SMA, Imajinasi dan Sajak-Sajak yang Menghujam ke Bumi
Klikhijau.com - Sepanjang Sabtu (4 April 2019) hujan turun tipis dan awet. Di dalam gedung Rachmat Witoelar kantor P3E Suma, para siswa duduk manis mendengar sajak-sajak dibacakan peserta lomba secara...
Klikhijau.com - Sepanjang Sabtu (4 April 2019) hujan turun tipis dan awet. Di dalam gedung Rachmat Witoelar kantor P3E Suma, para siswa duduk manis mendengar sajak-sajak dibacakan peserta lomba secara bergantian. Hujan baru terasa bisingnya saat lomba usai, persis jelang aroma senja berakhir.
Semua puisi yang dibaca adalah tentang bumi dan lingkungan. Peserta lomba tampil ekspresif, mereka menjiwai narasi puitik yang menggelitik dan menggugah. Mereka meneriakkan gelisah tentang bumi yang mencemaskan.
Tentang hutan yang menggundul dan banjir bandang. Tentang mata air dan air mata. Pesannya sederhana, mengajak kita (terutama anak-anak muda) agar melakukan sesuatu untuk bumi, mewariskan mata air pada generasi.
Ini tidak sekadar lomba, tapi juga panggung pencerahan. Para peserta lomba yang juga siswa SMA sederajat se Sulawesi Selatan itu seolah terbangun dengan kesadaran barunya, betapa bumi dihinggapi beban besar.
Lingkungan kita mengalami krisis dan degradasi. Ulah siapa? Ulah kita semua, manusia yang mengambil dan mengeruk sumber daya tanpa menimbang daya dukung lingkungan. Manusia yang memperlakukan bumi serampangan tak bertanggungjawab.
[irp posts="4594" name="Meriah, Lomba Baca Puisi Tema Lingkungan Akan Diagendakan Setiap Tahun"]
Maka, sajak-sajak yang dibacakan bukan narasi biasa. Peserta memang diberi kebebasan memilih puisi (karya sendiri atau orang lain) yang dianggap temannya tentang lingkungan. Pilihan menafsirkan sebuah puisi bertema lingkungan adalah satu jembatan agar para siswa terbiasa mengeksplore teks.
Para siswa menemukan kata dan makna pada sebuah sajak. Mereka menjiwai sajak itu sebagai aspirasi, ekspresi dan orasi tentang bumi. Maka, sajak-sajak yang dibaca seolah menghujam ke bumi. Ke dalam jiwa yang mendengarnya, pada batin yang membacanya. Sebab, puisi yang dipilih dan dibacakan itu telah ditafsir maknanya lebih dulu.
Begitulah, sebuah puisi adalah bahasa jiwa yang diperlukan saat manusia lupa diri. Puisi berjelaga pada jiwa yang kering laksana hujan turun di hutan gersang. Pepohonan dan rerumputan tumbuh bertunas dan berkecamba, sebagaimana hati dan kesadaran yang terbangun dari kelupaan sekian lama.