Akibat Perubahan Iklim, Gunung Denali Terancam Dibanjiri 60 Ton Tinja Manusia

oleh -693 kali dilihat
Akibat Perubahan Iklim, Gunung Denali Terancam Dibanjiri 60 Ton Tinja Manusia
Gunung Denali/foto-Netralnews.com
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Kartika Puspitasari menulis artikel berjumlah 551 kata dengan judul Indikator Kerentanan Perubahan Iklim Dikembangkan di Sulawesi Selatan. Artikel tersebut dimuat  Klikhijau.com, Jumat sore, 12 April 2019.

Kartika menulis bahwa dampak perubahan iklim akan mempengaruhi pola kehidupan masyarakat dan juga akan memberikan dampak terhadap target pembangunan.

Dalam tulisannya, Kartika lebih mengerucutkan pada kerentanan perubahan iklim di Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan. Katanya, potensi dampak yang akan ditimbulkan dari perubahan iklim akan semakin besar

Apa yang dikatakan Kartika memang benar, saat ini berbagai dampak perubahan iklim mulai terlihat, seperti kenaikan permukaan laut, gelombang panas, dan kekeringan ekstrim.

Namun, ada hal yang lebih menjijikkan akan terjadi dari dampak perubahan iklim, seperti yang ditulis Gita Laras Widyaningrum, yang dipublikasikan di Nationalgeographic.co.id, Selasa, 9 April 2019 lalu.

KLIK INI:  Mantan Menteri Lingkungan Hidup Bicara Soal Perubahan Iklim di Pascasarjana Unhas

Gita menulis bahwa The National Park Service (NPS) sedang bersiap untuk menghadapi longsoran kotoran manusia saat permukaan es Gunung Denali mencair dan mengungkap 66 ton tinja yang ditinggalkan para pendaki.

Gunung Denali merupakan gunung tertinggi di Amerika. Sebagai salah satu dari tujuh puncak dunia, gunung tersebut menarik perhatian para penjelajah dari seluruh dunia.

Diperkirakan ada 1.200 pendaki yang berusaha menaklukannya setiap tahun. Bersamaan dengan itu, sekitar 2,2 ton kotoran manusia tertinggal di Gunung Denali–hampir setara berat seekor badak.

Secara historis, feses manusia ini akan terbuang ke lubang salju di sepanjang rute menuju gletser Kahiltna atau ceruk yang dalam.

Diharapkan itu akan tertutup tanah penuh es, tapi kenyataannya berbeda karena gletser justru semakin mencair akibat perubahan iklim.

Meski para pendaki kini mulai bertanggung jawab dengan membawa turun kembali kotorannya, tapi 60 ton feses yang terlanjur ditinggalkan pengunjung sebelumnya tetap menjadi masalah.

Tinja menimbulkan masalah kesehatan

Hasil peneltian yang dilakukan Michael Loso, glasiolog dari National Park Service, menunjukkan bahwa kotoran yang dibuang pada akhirnya dapat muncul kembali di hilir di mana permukaan gletser mulai mencair.

KLIK INI:  Gunung Bawakaraeng Semakin Kritis, Salah Satu Penyebabnya adalah Pendaki

Ini tidak hanya menjijikan, tapi juga bisa menimbulkan masalah kesehatan. Patogen yang ditemukan pada tinja manusia dapat bertahan beberapa dekade setelah terkubur di salju atau ceruk.

“Feses akan muncul kembali ke permukaan tidak jauh berbeda dengan kondisi pertama kali ia dikubur.

Secara biologis, ia masih aktif sehingga E.coli yang ada di dalamnya tetap hidup dan berkembang dengan baik. Bahkan bentuk dan bau tinja pun kemungkinan masih sama,” papar Loso.

Dan masalah kotoran manusia ini semakin mendesak seiring semakin cepatnya gletser mencair karena perubahan iklim. Dalam 50 tahun terakhir, taman nasional Alaska telah kehilangan 8% lapisan esnya.

Sementara itu, penelitian yang dipublikasikan tahun lalu, mengungkapkan bahwa kenaikan suhu telah membuat gletser gunung Denali mencair pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya—setidaknya dalam 400 tahun.

“Kita telah kehilangan banyak gletser di taman nasional Alaska. Bahkan jumlahnya lebih luas dibanding Pulau Rhode secara keseluruhan,” kata Loso.

Dengan ini, berarti kita akan lebih sering melihat kotoran manusia yang muncul kembali di permukaan gunung. Terutama pada musim pendakian di bulan April ini.

Bayangkan, 60 ton tinja manusia akan mengisi sungai yang mengalir dari Gunung Denali dan sampai ke permukiman penduduk. Betapa mengerikan dan menjijikkannya.

KLIK INI:  Indikator Kerentanan Perubahan Iklim Dikembangkan di Sulawesi Selatan