2 Hal Unik di Sepanjang Jalan Cagar Alam Karaenta, Maros

Klikhijau.com – “Nanti saya mampir sepulang dari Mallawa,” Pesan ini saya kirim ke Taufik Ismail. Sebelum motor memasuk jalan yang membelah Cagar Alam Karaenta, Maros. Pesan itu disertai dengan fot...

2 Hal Unik di Sepanjang Jalan Cagar Alam Karaenta, Maros
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Persoalan sampah memang persoalan yang tak usai diurai. Mungkin seperti itulah persoalan yang terjadi di hilir, tumbang satu tumbuh seribu.

Untuk menghentikan aliran masalah ke hilir, termasuk sampah yang menyesaki tempat-tempat penting seperti cagar alam, maka hulu (pemerintah) harus membuat kebijakan yang kuat, termasuk hukumannya bagi mereka yang melanggar.

Sampah di sepanjang jalan raya yang menghubungkan Makassar-Soppeng, Bone, Sinjai hingga Bulukumba dan tembus kembali  ke Makassar itu jika tak segera ditindaklanjuti akan membahayakan banyak hal, khususnya satwa dan tumbuhan yang ada di Kawasan Cagar Alam Kareanta.

Persoalan sampah itu, menjadi keunikan (kamu bisa membacanya kemirisan) pertama yang akan ditemui di sepanjang jalan cagar alam tersebut.

Monyet yang hobi nongkrong

Nah, pemandangan unik lainnya adalah monyet. Seingat saya, ketika awal-awal melewati jalan raya itu, di kisaran tahun 2010. Pemandangan monyet nongkrong di pinggir jalan lumayan susah ditemui.

Namun, belakang, mereka mulai sangat berani nongkrong di pinggir jalan. Gelar satwa liar yang disandang monyet-monyet itu bisa saja sewaktu-waktu akan dicabut.

Kenapa dicabut? Karena mereka tak lagi liar, mereka telah akrab dengan manusia. Mereka berenteraksi layaknya sahabat yang minta stafet sepotong rokok. Apalagi di sepanjang jalan itu, terdapat pula beberapa warga lokal yang berjualan.

Belum lagi banyak pengguna jalan, dengan senang hati akan memberikan apa yang mereka butuhkan—berupa makanan kepada monyet-monyet itu.

Hal itulah yang membuat mereka lebih suka nongkrong berkelompok di pinggir jalan menunggu uluran tangan pengendara mobil dan motor ketimbang mencari makanan di hutan. Bisa jadi pula sumber makanannya di hutan mulai terkikis.

Bisa membahayakan

Dilansir dari ksdae.menlhk, monyet-monyet itu bernama ilmiah Macaca Maura atau Moor macaca. Mereka merupakan monyet hitam Sulawesi atau lebih dikenal dengan nama Dare.

Habitatnya berada  di hutan primer Karaenta. Saat ini Macaca Maura merupakan salah satu spesies prioritas dan dilindungi oleh undang-undang, bahkan  sudah masuk ke dalam daftar appendix II CITES. Karenanya, spesies ini mendapatkan perlindungan dan pengawasan secara rutin dari Balai TN Babul.

Penyebab mulai turun ke jalan ini memang belum diketahui secara pasti. Apakah karena adanya  yang sering memberinya makan secara rutin, sehingga kawanan ini menjadi terbiasa berenteraksi dengan manusia atau penyebab lainnya.

Perihal memberi makanan kepada monyet-monyet itu telah dilarang. Banyak papan pengumuman yang melarang memberi mereka makanan. Namun tak sedikit yang bahkan meminggirkan kendaraannya lalu berhenti, kemudian memberi monyet-monyet tersebut makanan.

Padahal memberi mereka (monyet-monyet) itu makanan bisa membahayakan hidupnya. Apalagi makanan yang diberikan bisa saja mengandung zat kimia. Belum lagi karena mereka telah berani nongkrong di pinggir jalan, tentu akan sangat membahayakan pula. Karena bisa tertabrak kendaraan.

Jadi, saat kamu lewat di jalan poros yang membelah Cagar Alam Karaenta, dua pemandangan itu akan jadi suguhan. Persoalan sampah mungkin jadi suguhan mengerikan, tapi pemandangan monyet yang nongkrong di pinggir jalan akan jadi suguhan menarik. Namun, ingat patuhi larangan yang telah ditetapkan, jangan memberi makan monyet-monyet itu.

Biarkan mereka tetap menjadi satwa liar—mencari makan dengan caranya sendiri di hutan demi menyelamatkannya hidupnya agar tidak manja terhadap uluran tangan seseorang.

Jangan cabut statusnya sebagai satwa liar dengan sepotong makanan dari tanganmu.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2